SUMENEP, koranmadura.com – Taufiqurrahman, seniman Sumenep yang sekaligus pencipta Tari Muang Sangkal meninggal dunia Selasa pagi, 20 November 2018 bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1440 H, di RSUD Dr H Moh Anwar Sumenep. Meski jiwa raganya sudah tidak ada di dunia ini namun nama beliau akan tetap terus disanjung dan diingat oleh semua orang.
Pascakabar meninggalnya seniman kelahiran 10 Oktober 1940 ini, koranmadura.com mencoba menelusuri jejaknnya melalui salah seorang muridnya yang diajari langsung oleh almarhum. Dia adalah Suhartatik yang kini menjadi Dosen di kampus Taneyan Lanjang STKIP PGRI Sumenep.
Tika, panggilan kesayangan Suhartatik mengaku kaget atas kabar meninggalnya Taufiq, sebab dirinya terakhir silaturahmi kepadanya waktu almarhum masih tinggal di rumhanya yang ada di Jl. KH Mansur sekitar dua tahun silam.
“Setelah mendapat info itu, Saya kaget sebab selama ini saya lama tidak pernah ketemu beliau. Sewaktu beliau masih sehat tapi agak sakit saya masih sering menjenguk beliau di rumahnya di Jl. KH Mansyur itu. Tapi kemudian beliau pindah dan saya tidak tahu rumahnya yang baru,” ucapnya, Rabu 21 November 2018.
Tika menjelaskan, pihaknya diajari langsung oleh Taufiq waktu kelas IV dan V di SDN Saronggi 1, Kecamatan Saronggi, sekitar 1993-1994. Sosok Almarhum di mata Tika adalah orang yang terbuka, murah hati, dan tidak pelit membagi ilmu dan pengalamannya.
Semasa hidupnya waktu aktif mengajar, Almarhum tidak segan-segan menghukum muridnya yang asal-asalan atau yang tidak serius dalam menyerap pelajaran. “Abah itu yang saya kenal, orangnya tegas dan disiplin. Tidak segan-sengan memberi hukuman kalau muridnya yang dilatihnya tidak serius,” ucap Tika yang juga sebagai mantan Jurnalis Reportase ini.
Menurutnya, Sosok Pak Taufiq yang juga pencipta Tari Codik Sumekar ini, banyak berjasa dalam dunia tari di Madura, khususnya di Sumnep. “Pelajaran yang saya ingat betul ketika menari Muang Sangkal itu adalah gerakan Menda’ yang harus benar. Menda’ itu biasa dipakai dalam istilah sewaktu menari. Yaitu posisi pinggul agak merendah dan ditekuk (tapi bukan nungging, red),” tambahnya.
Hal senada juga disampaikan oleh murid lainnya, yakni Liza Ulfa Maezura. Menurutnya, Pak Taufik adalah sosok yang sangat menginspirasi baginya, terutama dalam dunia seni dan budaya.
Dia selalu menanamkan sikap konsisten dan kedisiplinan serta kreatifitas dan profesionalisme yang tinggi. “Disiplin, kreatif, dan totalitas. Itu kesan beliau yang salalu saya ingat,” ucapnya.
Dia merasa sangat kehilangan guru yang dicintainya tersebut, karena selain lama tidak bertemu, Ning Ellis sapaan akrab Liza Ulfa Maesura ini dan Suhartatik berencana ingin membuat profil beliau, namun sampai beliau mengembuskan napas terakhir, buku tentang biografi beliau tersebut belum terealisasi.
“Saya sungguh kehilangan beliau, karena beliau salah satu seniman atau budayawan yang karyanya selalu dinanti dan insyaallah abadi sepanjang sejarah Sumenep. Apalagi saya berencana menulis buku tentang Biografi beliau dengan Mbak Suhartik, tapi sampai beliau meniggalkan kita rencana ini belum terialisasi,” ucap perempuan yang saat ini menggeluti dunia kepunulisan dan perfilman ini.
Untuk diketahui, sosok Taufiqurrahman sang pencipta Tari Muang Sangkal ini, sebelum meninggal dunia mengalami sakit komplikasi, diabetes, dan paru-paru. Almarhum dikebumikan di Pemakaman Bujuk Panglegur, Desa Pabian Sumenep, Selasa sore, 20 November 2018. (MADANI/ROS/DIK)