SUMENEP, koranmadura.com – Pembangunan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) dan Indeks Pembangunan Gender (IPG) di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, baru sebesar 57,65 persen. Angka tersebut masih tergolong rendah.
Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi mengatakan, angka tersebut merupakan terdiri dari beberapa komponen, keterlibatan perempuan di parlemen 6,0 persen, perempuan sebagai tenaga manajer, profesional, administrasi, teknisi sebesar 41,85 persen dan sumbangan perempuan dalam pendapatan kerja hanya 36, 37 persen.
Sementara Indeks Pembangunan Gender (IPG) juga rendah, yakni 78,70 persen, jauh di bawah IPG Jawa Timur sebesar 91,07 persen, yang meliputi komponen rata-rata lama sekolah, angka harapan sekolah dan pengeluaran per kapita.
“Kalau mengacu pada data itu, maka bisa disimpulkan masih ada ketimpangan besar antara kaum laki-laki dan perempuan di Sumenep,” kata Fauzi.
Pengusaha muda itu juga mengatakan, pemerintah perlu melakukan perbaikan kualitas kaum perempuan agar subordinasi (penomorduaan), marginalisasi (peminggiran ekonomi), beban kerja berlebih, cap-cap negatif terhadap perempuan (stereotip), dan kekerasan domestik maupun publik tidak lagi terjadi.
Termasuk pemerintah daerah dan elemen masyarakat, lanjutnya, juga perlu melindungi anak-anak demi masa depannya, supaya tidak mengalami diskriminasi, eksploitasi, dan tindakan lainnya.
“Anak sebagai tunas dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa memiliki peran strategis, kita wajib melindunginya dari segala bentuk perlakuan tidak manusiawi. Karena mereka kelak akan memiliki peran penting,” tegasnya. (JUNAIDI/ROS/VEM)