Oleh: Miqdad Husein*
Tak diragukan Rocky Gerung memang seorang relatif bisa mengolah kata dan kalimat. Mampu menghipnotis sebagian pendengar terutama yang mudah terpesona permainan kata-kata. Kontroversi yang dibangunnya dengan kata-kata membuat dia selalu diundang dalam acara sebuah stasiun televisi nasional.
Mereka yang mengerti konsep berita pasti memahami mengapa Rocky Gerung selalu diundang. Pertimbangan utamanya -itu tadi kontroversi. Selalu hal-hal kontroversial menarik pemirsa untuk menontonnya baik yang suka maupun tidak. Penikmat atau yang sekedar ingin mengetahui.
Jadi, jangan terlalu berharap Karni Ilyas mau menghentikan permainan kata Rocky Gerung. Sebab akan berpengaruh pada rating. Itu artinya, dalam pandangan stasiun televisi, iklan dikhawatirkan menurun jika tak ada Rocky Gerung. Bahwa berbagai lontarannya jika dicermati hanya sedikit berbeda dari ujaran kebencian atau sebut saja semacam nyinyiran, tidak penting bagi stasiun televisi. Ini urusan rating, bukan urusan moral atau pencerdasan masyarakat.
Beberapa kali Rocky Gerung dibikin KO oleh pembicara lain atas dasar tudingan kompetensi berbagai lontarannya. Maklum saja, ia bicara tidak luas dan tidak dalam serta lebih mengesankan permainan kata-kata. Adalah Prof. Dr. Renald Kasali, salah satu nama, yang membuat Rocky tertunduk terkait masalah divestasi Freeport. Ia diam, tertunduk mendengar paparan seorang guru besar asli Renald Kasali.
Tetapi Rocky Gerung tetap terus berjalan bermain-main kata-kata yang mendapat tepukan para pendukung Prabowo Subianto. Iapun seperti mendapat tempat di tengah persaingan Pilpres 2019.
Sebenarnya, tidaklah penting apa yang dibicarakan dan disampaikan Rocky Gerung di tengah publik terutama saat acara salah satu stasiun telivisi. Siapapun boleh berbicara di Negara yang makin dewasa demokrasinya. Namun penting dicermati atas dasar apa seorang Rocky bicara. Sebagai politisi, akademisi atau praktisi bidang tertentu.
Itu penting agar masyarakat tidak tersesat dalam berpikir. Masyarakat dapat mengetahui dalam kapasitas apa seorang Rocky bicara. Inilah yang sebenarnya jauh lebih penting ditegaskan Karni Ilyas agar masyarakat mengetahui hitam putih persoalan.
Selama ini ada kecenderungan Rocky Gerung diposisikan sebagai akademisi dengan embel-embel panggilan professor –belakangan ada bantahan Rocky Gerung sudah lama tidak mengajar di Universitas Indonesia. Namun jika dicermati berbagai lontaran pendapat dan pemikirannya Rocky Gerung sebenarnya seorang politisi. Ia hanya memakai baju akademis sekedar mendapat pembenaran seakan dirinya netral.
Jika dicermati hampir tidak ada lontaran pernyataan dan pemikirannya memberikan apresiasi kepada pemerintahan Jokowi. Yang selalu dilakukan dan disampaikannya kecaman, kritikan dan lontaran nyinyir khas politisi. Seorang politisi Nasdem pernah menyebut dia sok tahu ketika menyerang Ibu Megawati. Politisi Nasdem itu sempat pula mempertanyakan posisi dia, yang bersikap seperti politisi namun berlagak sebagai akademisi. “Kalau Fadly Zon, jelas sikapnya. Ia memang berada di luar kekuasaan dan wajar saja, mengkritisi apapun yang dilakukan pemerintah,” tegasnya.
Di sinilah benang merah yang perlu dipertegas seorang Karni Ilyas tentang atas dasar apa seorang Rocky Gerung bicara. Janganlah berbaju akademis namun pikiran dan lontaran pernyataan khas politisi dari oposisi yang menganggap apapun yang dilakukan pemerintahan jelek, salah. Rocky bahkan jauh lebih beringas dari seorang oposisi.
Semua yang berpikir sehat mengakui bahwa dalam Negara demokrasi perlu keseimbangan antara kritik dan dukungan. Perlu cek and balances. Namun tentu perlu kejelasan di mana kaki berpijak agar masyarakat memiliki parameter jelas. Jangan sampai terjadi pembodohan yang menyebabkan masyarakat kehilangan akal sehat sehingga berkembang pemikiran semua yang dilakukan pemerintahan Jokowi salah; atau juga sikap yang juga salah menganggap semua yang dilakukan benar.
Berikan penjelasan mana yang kurang baik dan yang sudah baik. Mana yang sudah benar dan yang masih perlu diperbaiki. Selalu ada sisi kebaikan pada orang lain, seperti juga hampir pasti ada kejelekan. Cara pandang seperti itulah yang harus ditebar jika ingin masyarakat negeri ini makin cerdas. Bahkan, perlu ditebar pulah oleh oposisi, yang selalu ingin beda dari kekuasaan.
*Kolumnis, tinggal di Jakarta.