JAKARTA, koranmadura.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyesali kasus pemindahan 2 kuburan di Gorontalo yang membuat heboh publik. PBNU menilai kasus pemindahan jenazah karena perbedaan pilihan caleg itu mengoyak kemanusiaan.
“Pemindahan 2 jenazah yang telah dikebumikan gegara beda pilihan caleg dengan pemilik tanah kuburan sangat mengoyak rasa kemanusiaan,” ujar Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU, Robikin Emhas, dalam keterangan tertulis yang dikutip dari detik.com, Senin, 14 Januari 2019.
Baca: Gara-gara Beda Pilihan Caleg, 2 Kuburan Dipindah
Kuburan yang dipindahkan adalah kuburan almarhum Masri Dunggio, yang sudah dimakamkan 26 tahun lalu, dan almarhumah Sitti Aisya Hamzah, yang baru setahun dimakamkan di halaman belakang milik warga bernama Awono. Pemindahan kuburan itu dilakukan di Desa Toto Selatan Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.
Pemindahan kuburan itu dipicu bahasa ‘kalau kamu tidak pilih, ada yang mati tidak bisa dikuburkan di sini. Itu kuburan Masri harus dipindah’ dan ‘Kamu kalau tidak pilih Nani atau Iriani (Caleg DPRD Bone Bolango Partai Nasdem, Iriani Manoarfa) itu kuburan pindah dan ini saya pagar (jalan)’ yang disampaikan Awano. Awano merupakan saudara ipar dari Nani.
Dari peristiwa itu, Robikin menilai tampak jelas terlihat bahwa politik dipahami sebagai sarana mendapatkan kekuasaan. Sehingga, segala macam cara dihalalkan demi memenangkan kontestasi politik.
“Politik yang seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan justru mematikan rasa kemanusiaan itu sendiri. Sayangnya, kesan penghalalan segala cara dalam meraih kekuasaan politik tidak hanya terjadi dalam perebutan kursi legislatif sebagaimana kasus pemindahan jenazah ke kuburan lain yang terjadi di Gorontalo. Namun juga dalam Pilpres. Politisasi agama, penggunaan fake news dan hoax sebagai mesin elektoral dapat disebut sebagai contohnya,” katanya.
Ditambah lagi, menurut Robikin, dampak yang ditimbulkan dari upaya-upaya ‘kotor’ itu juga kerap diabaikan. Akibatnya, hubungan kekerabatan pecah, dan persahabatan retak. Tetangga, kerabat dan sahabat kemudian dikategorikan sebagai lawan. “Semua disandarkan satu hal: kesamaan pilihan politik,” katanya.
Robikin mengatakan, jika persoalan-persoalan seperti kasus pemindahan jenazah tidak dihentikan, maka dapat merusak kohesivitas sosial dan harmoni masyarakat. Ujungnya, ketahanan sosial dan persatuan serta kesatuan bangsa menjadi taruhannya.
“Sebagai pesta demokrasi pemilu seharusnya menjadi kegembiraan nasional. Layaknya pesta yang tak perlu ada satu pun gelas pecah. Semoga peristiwa memilukan pemindahan kuburan akibat beda pilihan politik di Gorontalo menjadi satu-satunya kejadian dan tak terulang di kemudian hari. Toh, politik adalah sarana pemanusiaan manusia,” ujar Robikin. (DETIK.com/ROS/VEM)