JAKARTA, koranmadura.com – Nyaris 100 anak dilaporkan meninggal dunia akibat wabah Ebola yang menyerang Republik Kongo sejak Agustus 2018. Menurut sebuah pernyataan resmi yang dikeluarkan organisasi internasional Save the Children, 65 dari 97 anak tersebut berusia di bawah 5 tahun.
“Kami berada dalam persimpangan. Jika kami tak segera mengambil langkah darurat untuk menangani hal ini, wabahnya bisa terus ada selama enam bulan, atau bahkan setahun penuh,” kata Heather Kerr, direktur Save the Children dalam pernyataan tersebut, demikian dilaporkan Fox News.
Wabah ini dinyatakan sebagai kedua terbesar dalam sejarah, dengan laporan setidaknya 731 kasus Ebola yang terkonfirmasi dalam kurun waktu enam bulan terakhir dan 484 kematian. Kongo pernah mengalami wabah terburuknya di tahun 2014 dan 2016, dengan perkiraan 11 ribu korban jiwa.
Upaya pencegahan dan pengembangan vaksin percobaan masih terus dilakukan, sayanganya terhambat akan pengetahuan tentang Ebola yang minim. Dr Brian D’Cruz dari Doctors Withour Borders, sebuah yayasan non-profit internasional, mengatakan warga Kongo masih banyak yang belum tahu soal penyakit tersebut.
Sekitar 70 ribu warga telah menerima vaksin percobaan, namun masih dalam tinjauan soal seberapa efektifnya vaksin tersebut. Di luar vaksin, tenaga kesehatan di Kongo masih perlu menghadapi tantangan lain, yakni ancaman dari warga lokal yang tak memercayai adanya virus Ebola, atau ada yang percaya bahwa Ebola justru disebarkan dari tenaga kesehatan (nakes) itu sendiri.
“Kami harus terus berusaha untuk mengajak para pemuda dan pemimpin komunitas untuk membangun rasa percaya dan membantu kami untuk mengubah hal tersebut. Merawat orang sakit sangat penting, namun menghentikan Ebola agar tak semakin menyebar juga sama pentingnya,” lanjut Kerr, masih dalam pernyataan resminya.
Pada tahun 2018, Republik Kongo menghadapi wabah Ebola yang menyebar di kota-kota dengan penduduk lebih dari 1 juta jiwa. Salah satu provinsi yang terkena wabah Ebola juga berada di zona konflik. (DETIK.com/ROS/VEM)