SUMENEP, koranmadura.com – Tahun lalu, angka kimisminan di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Di tahun 2017 angka kemiskinan 19,62 persen, naik menjadi 20,16 persen di tahun 2018.
Menurut Bupati Sumenep, A. Busyro Karim, meningkatnya angka kemiskinan itu, di antaranya dipengaruhi oleh pengeluaran perkapita penduduk perbulan di bawah garis kemiskinan.
“Apalagi surveinya dilakukan pada bulan Maret. Padahal untuk di Sumenep, di bulan Maret itu, di masyadakat memang sepi dari program-program yang bisa dilaksanakan,” ujarnya.
Lalu, di mana saja kantong-kantong kemiskinan di Sumenep? Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) setempat, Yayak Nurwahyudi, mengatakan masyarakat miskin di Sumenep tersebar di 27 kecamatan.
“Kalau kantong-kantong kemiskinan itu merata di semua kecamatan. Tapi bukan di semua desa. Melainkan ada di desa-desa tertentu. Ada petananya itu,” kata pria yang akrab disapa Yayak itu, tanpa menjelaskan lebih detil, misalnya tersebar di berapa desa atau di mana desa paling parah.
Namun menurutnya, di beberapa daerah yang menjadi kantong-kantong kemiskinan itu butuh intervensi. Apalagi sejauh ini roda perekonomian masyarakat masih sangat tergantung terhadap program-program pemerinta atau APBD.
“Roda perekonomian kita (masyarakat Sumenep) ketergantungannya terhadap APBD masih samgat tinggi. Karena apa? Investasi kurang bergerak,” ungkap mantan Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) itu. FATHOL ALIF/ROS/VEM