SAMPANG, koranmadura.com – Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 17 April 2019, politik uang (money politic) menjadi isu hangat di kalangan masyarakat. Namun, isu tersebut dipatahkan oleh politisi PDIP Kabupaten Sampang, Moh Hasan Jailani.
Menurut mantan Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI-NU) Kabupaten Sampang ini, berpolitik tidaklah harus dengan uang.
“Jadi nyaleg itu tidak harus pasang baliho, banner dan semacamnya. Nyaleg itu hanya butuh tekad bulat serta kepercayaan masyarakat kepada para caleg. Dan kami berupaya melawan arus besar itu. Sekarang saja ikut kontestasi di parlemen itu perlu dukungan dan kepercayaan masyarakat. Buktinya, APK, stiker, desain, medsos, semuanya sumbangan teman-teman, seperti pemasangan APK di Sumenep, saya pribadi tidak tahu siapa yang pasang, tiba-tiba ada wajah saya. Nah Semuanya itu bisa dilakukan layaknya para kontestan lainnya karena masyarakat menginginkan saya maju nyaleg dan amanah ini perlu dijaga sebaik-baiknya,” ucap Tretan Mamak, sapaan akrabnya, Sabtu, 30 Maret 2019.
Pria yang kini maju menjadi Caleg DPRD Provinsi Jatim 2019-2024 Dapil Madura tersebut menyampaikan, saat ini dirinya hanya menciptakan kepercayaan kepada masyarakat meski gempuran politik terhadap parpolnya sangat luar biasa.
“Banyak yang menilai PDIP ini itu, tapi saya malah dipercaya sama warga NU, sekarang ini malah saya diamanahkan menjadi ketua Lembaga Kesehatan NU Sampang. Ya karena saya pribadi tumbuh di kalangan NU dan pernah menjadi pengurus harian di NU,” akunya.
Pihaknya meyakini dengan berpolitik santun tanpa ada hujat menghujat terlebih di media sosial menjadikan politik damai dan bermanfaat untuk masyarakat khususnya. Namun demikian dirinya mengaku hal wajar manakala ada kalangan yang membullynya.
“Saya perintahkan kepada teman-teman agar tidak membully kontestan lainnya baik di lapangan maupun di medsos. Kalau kita yang dibully, ya kita senyumi saja. Karena masyarakat pasti cerdas memilih. Dan kami yakini masyarakat akan memilih kontestan yang jelas rekam jejaknya,” ujarnya.
Mantan Wakil Sekretaris PCNU ini juga menyampaikan, terjun ke dunia politik merupakan pilihan hidupnya. Tetapi bukan kepentingan pribadi.
“Makanya berpolitik itu jangan sekali-kali untuk kepentingan pribadi. Karena sekali itu terjadi maka siap-siaplah untuk ditinggalkan rakyat maupun publik, dan itulah konsekuensinya,” tegasnya. (MUHLIS/SOE/DIK)