Oleh: MH. Said Abdullah*
Beberapa hari terakhir ini beredar di media sosial dan jejaring komunikasi seperti WhatsApp tentang kemarahan Calon Presiden Prabowo Subianto. Ada yang saat acara di Madura, Cianjur, dan daerah lainnya. Kejadian di Cianjur sempat diklarifikasi pihak pengamanan dalam hal ini kepolisian yang memberikan penjelasan tentang alasan kemarahan Prabowo Subianto.
Atas dasar penjelasan alasan kemarahan yang disampaikan pihak keamanan sebagian masyarakat memahaminya. Namun dari berbagai komentar yang beredar banyak bertanya apakah sepantasnya terjadi kemarahan secara terbuka dalam berbagai momen yang dihadiri masyarakat luas, yang di dalamnya sangat mungkin ada anak-anak. Apalagi dalam kejadian di Cianjur sempat ada adegan menyibak tangan dengan keras agar lepas dari mobil disertai ekspresi kemarahan yang terlihat sangat jelas.
Marah memang secara psikologi merupakan instrumen naluriah melekat dalam diri manusia. Naluri marah tidak dapat dihilangkan namun dapat dikendalikan atas dasar kepentingan serta mempertimbangkan situasi dan kondisi.
Mereka yang mampu mengendalikan diri ketika akan menggunakan instrumen marah mempertimbangkan banyak hal. Antara lain alasan dan kepentingan serta nilai untuk marah. Jangan karena alasan sepele atau persoalan elementer misalnya, seseorang harus marah apalagi sampai ‘berdarah-darah’. Marah bagi mereka yang berpikiran sehat benar-benar merupakan ekspresi situasional dan kondisional ketika ada masalah serius.
Ketika masalah muncul sangat serius sekalipun, seorang yang memiliki kemampuan mengendalikan diri mempertimbangkan kapan instrumen marah digunakan. Seorang pimpinan yang arif dan bijaksana betapapun marah kepada anak buah tidak akan melakukan di tempat terbuka. Ia akan memanggil sang anak buah ke tempat tertutup lalu memarahi dengan cara mendidik yaitu memberitahukan apa kesalahannya dan bagaimana selanjutnya agar tak tertulang lagi.
Konten marah di sini bukan sekedar mengekspresikan kekecewaan karena terjadi kesalahan tetapi juga memberikan pembelajaran. Ada proses edukasi kepada yang dimarahi agar tidak mengulang kesalahan yang sama di masa mendatang.
Mengapa harus tertutup? Bukan hanya terkait kepentingan yang dimarahi agar tidak terkesan dipermalukan di tengah keramaian sehingga membawa efek psikologis menimbulkan rasa rendah diri. Aspek lainnya adalah menghindari imej jelek kepada pimpinan bersangkutan serta tidak menimbulkan berbagai persepsi salah kaprah dari mereka yang melihat secara terbuka.
Paparan sederhana di atas baru sebatas kemarahan keseharian dalam lingkungan sempit serta dilakukan sosok-sosok dalam kepemimpinan terbatas. Sangat terlihat dampak dan pengaruh negatifnya bila kemarahan jauh dari kendali serta berlangsung di tempat terbuka.
Bagaimana jika kemarahan itu dilakukan seorang calon pemimpin sekelas kepala Negara apalagi di tempat terbuka, yang terekam alat elektronik sehingga bukan hanya terlihat saat momen berlangsung tapi menyebar luas dalam jangka waktu lama? Bagi sosok bersangkutan resiko paling berat tidak disukai, menimbulkan keengganan untuk memilih jika terjadi dalam ajang kampanye pemilihan. Namun, yang berbahaya adalah dampak psikologis dan sosial bagi masyarakat luas.
Antar elite pemimpin yang secara terbuka mempelihatkan perbedaan pendapat saja karena persaingan pemilihan pimpinan pemerintahan dapat mempengaruhi perilaku para pendukungnya sehingga bisa menimbulkan ketegangan.
Elite berbeda pemikiran bukan hal luar biasa karena fanatisme, para pendukung terpancing melakukan tindakan kekerasan. Di atas bersilang sengketa visi misi di kalangan pendukung bisa saling asah golok. Sangat berbahaya.
Di sinilah penting para elite untuk menahan diri tidak memperlihatkan ketegangan berlebihan, ekspresi marah secara terbuka karena dapat berdampak buruk kepada masyarakat luas, baik kepada pendukung maupun yang bukan pendukungnya.
Jika elite pemimpin terlihat emosional di tempat terbuka, masyarakat akan mudah mengikuti tingkah laku pemimpinnya. Elite pemimpin yang bersaing ‘asyik-asyik’ saja, tidak terlihat tegang, santai, kadang di kalangan antar pendukung saling marah, apalagi jika menyaksikan elite marah-marah di tempat terbuka.
Dalam moment Pilpres 2019 ini semua pihak memang perlu menahan diri, terutama para elite pemimpin. Mereka perlu menghindari berbagai pernyataan bermuatan konfrontasi, bernuansa kebencian, ketegangan apalagi sampai memperlihatkan amarah secara terbuka. Rakyat negeri ini ingin para pemimpin menjadi contoh kebaikan, keramahan dan kedamaian. Rakyat menyadari bahwa kedamaian mahal harganya serta perlu kesungguhan semua kalangan, terutama kalangan elite pemimpin untuk menjaganya. Hanya dalam kondisi damai dan tentram serta aman akan dapat terwujud Indonesia maju.
*Wakil Ketua Banggar DPR RI