SUMENEP, koranmadura.com – Putri alm KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Yenny Wahid, turut hadir dalam acara Ngaji Bareng dan Ijazah Shahih Bukhari bersama KH. Ma’ruf Amin di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur, Selasa,19 Maret 2019.
Yenny tiba di lokasi acara, yakni di Lapangan Perpustakaan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) bersama rombongan Kiai Ma’ruf sekitar pukul 10.40 WIB yang disambut santri dan alumni Annuqayah serta para kiai pesantren di Jawa Timur.
Setelah Kiai Ma’ruf memberikan ijazah kitab Shahih Bukhari dan tausiah, Yenny diberi kesempatan oleh panitia untuk menyampaikan sepatah dua kata. Ia dipersilakan menyampaikannya di atas panggung.
Dalam penyampaiannya, salah satu hal yang ditekankan ialah pentingnya melawan hoaks atau berita palsu. Terutama yang mengarah kepada fitnah. Menurutnya, santri dan masyarakat Sumenep pada umumnya tidak boleh sampai termakan hoaks. Apalagi sampai menjadi bagian dari orang yang menyebarkannya.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara sekalian harus memastikan ruang publik kita tidak berisi dengan ujaran-ujaran kebencian, fitnah-fitnah dan hoaks. Apalagi yang sampai menyudutkan para ulama,” katanya.
Sebaliknya, dia minta kepada para santri supaya mengisi ruang publik dengan ucapan-ucapan yang santun dan senantiasa menjaga kehormatan ulama. Karena yang harus melakukan itu ialah dari kalangan pesantren sendiri. Termasuk para santri.
“Siapa yang akan menjaga, kalau bukan kita. Sekarang muru’ah kiai kita sedang dipertaruhkan. Karena itu, saya minta semua merapatkan barisan. Sumenep ini kita harus perlihatkan, bahwa kekuatan Nahdlatul Ulama adalah kekuatan luar biasa. Jangan biarkan ruang publik di Sumenep dikuasai oleh mereka yang benci kepada NU,” tegasnya.
Mengakhiri sambutannya, Yenny berpesan agar pada tanggal 17 nanti nama terakhir dirinya diingat. “Saya rasa itu saja. Tidak perlu berpanjang-panjang. Kalau yang lainnya pesannya lupa, yang penting tanggal 17 nanti ingat-ingat nama saya. Nama belakangnya apa? Wahid. Artinya apa? Settong (bahasa Indonesia: satu),” pungkasnya. (FATHOL ALIF/DIK/VEM)