SAMPANG, koranmadura.com – Puluhan ulama dan kiai yang tergabung dalam Aliansi Ulama Madura (AUMA) serta Majlis Silaturrahim Ulama Sampang (Majsus) mendatang kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten setempat, Kamis, 14 Maret 2019. Ada apa gerangan hingga mereka ngeluruk penyelenggaran Pemilu?
“Pertama kedatangan kami dari Majelis Silaturahim Ulama Sampang hanya ingin memberikan support terhadap pelaksanaan pemilu 2019 yang akan datang, tentunya agar damai dan baik. Karena kunci pemilu yang aman dab damai adalah jujur dan adil,” kata Ketua Majsus, KH Ahmad Yahya Hamidudin.
Tidak hanya itu, kedatangan mereka juga untuk meminta KPU agar melaksanakan pemilu dengan baik. Pihaknya tidak menginginkan kejadian pemilu pada tahun 1997 silam dan beberapa waktu lalu terulang kembali.
“Kami juga ingin mengantarkan penyelenggara untuk menempatkna netralitasnya sebagaimana saran dan tausiah dari para ulama agar TNI, Polri, ASN hingga ke bawah betul-betul menempatkan diri sebagai aparat yang netral dan mengantarkan kesuksesan pemilu,” harapnya.
Lebih jauh pihaknya menyampaikan, terkait adanya indikasi pelanggaran di berbagai daerah, pihaknya memasrahkan kepada Bawaslu.
“Oleh karennya, kami percaya kepada penyelenggara dan kami berharap untuk menempatkan netralitasnya, sebab jika ada ketidakadilan, maka para ulama tidak akan bertanggung jawab apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.
Ketua KPU Kabupaten Sampang, Syamsul Muarif menyampaikan apresiasi kepada ulama dan kiai di Sampang yang bersedia memberikan dukungan penuh kepada KPU.
“Pada intinya beliau menyampaikan beberapa masukan dan nasehat kepada kami agar pemilu yang akan datang bisa diselenggarakan dengan sukses tanpa ada pelanggaran yang signifikan. Itu yang menjadi maksud dan tujuan beliau berkunjung ke kantor kami,” katanya.
Syamsul, panggilan akrab Syamsul Muarif menambahkan, tidak ada perlakuan khusus dalam tahapan pelaksanaan pemilu.
“Pelaksanaannya sama sesuai dengan ketentuan dan peraturan, jadi semuanya harus berjalan on the track, sebagaimana harapak kita semuanya,” ujarnya.
Di tengah forum, pihaknya mengaku telah menyampaikan upaya dan ikhtiar, mulai dari niat dan semangatnya untuk mewujudkan pemilu yang lebih baik, bekualitas, dan berintegritas.
“Tentunya harus lebih baik dari sebelumnya. Kami tidak mau masuk dalam perseteruan kontestasi yang ada di luar. Kami hanya melayani dan memfasilitasi kontestasi itu sendiri,” paparnya.
Lebih jauh pihaknya menyampaikan, adanya dugaan pelanggaraan, menurutnya para ulama dan Kiai berharap kepada instansinya agar melaksanan pemilu yang jurdil.
“Yang menjadi poin dan rekomendasi para ulama dan kiai kepada kami yaitu mereka berharap pelaksanaan pemilu berjalan jurdil. Kemudian kami diingatkan tentang tanggung jawab penyelenggara karena juga menjadi tanggung jawab kepada masyarakat dan negara,” pungkasnya. (MUHLIS/SOE/VEM)