PAMEKASAN, koranmadura.com – Kepolisian Resor (Polres) Pamekasan, Jawa Timur, menyatakan masuknya narkoba di Madura adalah melalui sebagian Tenaga Kerja Indonesia (TKI) jalur ilegal.
Para bandar narkoba yang masuk dalam jaringan Malaysia menggunakan jalur TKI ilegal itu untuk mengedarkan narkoba karena dianggap paling aman dan mudah lolos dari pantauan petugas keamanan dan mesin deteksi.
Kepala Satuan Narkoba Polres Pamekasan, Mohammad Sjaiful, mengatakan dari beberapa penangkapan pelaku peredaran barang haram tersebut, disinyalir memiliki keterkaitan dengan tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Selain itu, lokasi bandar berada di daerah yang dikenal sebagai kantong-kantong TKI Malaysia, yakni di wilayah pantai utara Madura.
“Jalur TKI ilegal ini dianggap sebagai jalur yang aman, karena mereka keluar dan kembali ke Indonesia kenggunakan pelabuhan tradisional dan bus yang bebas dari mesin deteksi,” kata Sjaiful.
Para TKI itu, jelas dia, bukan tidak paham terhadap narkoba, melainkan merasa keterlibatan mereka dalam bisnis haram itu memberikan keuntungan secara ekonomis, yang bisa digunakan menutupi hutang untuk biaya keberangkatan ke Malaysia.
“Mereka juga takut malu jika kembali ke Indonesia tidak membawa uang. Sementara di rantau, mereka sulit mendapat pekerjaan,” jelas Sjaiful.
Karenanya, saat ini Polisi memperketat pengawasan di sejumlah pelabuhan tradisional di Madura dan tempat lain yang selama ini menjadi pintu masuk dan keluar para TKI Malaysia.
“Kami juga sudah memiliki data para tenaga kerja ilegal yang memiliki keterkaitan dengan terduga bandar dan pengedar narkoba. Data itu kami peroleh dari hasil pengembangan pemeriksaan tersangka yang berhasil kami tangkap,” katanya.
Beberapa waktu lalu, Polres Pamekasan berhasil menangkap dua tersangka pengedar sabu. Keduanya diduga terkait dengan jaringan Malaysia.
Ketua Barisan Ansor Anti Narkoba (BAANAR) Pamekasan, Mohammad Hasan, mensinyalir keterlibatan sejumlah pelajar dalam kasus narkoba di Madura, khususnya di Sampang dan Pamekasan, tidak lepas dari dugaan keterlibatan sejumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal Malaysia dalam jaringan peredaran barang haram tersebut.
Dalam analisanya, para TKI ilegal yang mendapat “titipan” bubuk setan itu ingin memperluas jaringan pemasaran selain jaringan yang sudah ada selama ini. Sasaran yang mereka bidik adalah para pelajar yang memiliki hubungan pertemanan maupun kekerabatan dengan mereka.
Indikasi yang dikemukakan Hasan, kasus keterlibatan para pelajar itu jumlahnya masih sangat minim meski ada kecenderungan meningkat. Itu, kata dia, menjadi indikasi bahwa keterlibatan mereka masih dalam tahap “pengenalan”.
“Sangat mungkin ada keterkaitan antara oknum TKI ilegal dengan peredaran sabu di tingkat pelajar itu. Pelaku peredaran narkotika, memiliki kecenderungan mengembangkan pasar, dan sangat mungkin saat ini mereka mengembangkan ke kelompok pelajar,” kata Hasan.
Aktivis GP Ansor Pamekasan itu mengatakan para pelajar yang cenderung coba-coba dengan hal baru, sangat mudah dipengaruhi. Apalagi disertai iming-iming memiliki barang-barang modern seperti ponsel baru dan lain sebagainya.
Soal keterkaitan dengan oknum TKI ilegal, Hasan menjelaskan, indikasi itu bisa dilihat dari pusat peredarannya yang sebagian besar merupakan kantong-kantong TKI ilegal. Mereka juga dimasukkan dalam kelompok jaringan Malaysia.
Ia menyontohkan, di Sampang ada di Kecamatan Robatal dan Ketapang, sedang di Pamekasan di Kecamatan Proppo dan beberapa kecamatan lainnya.
“Bukan berarti jalur TKI ilegal menjadi satu-satunya jaringan peredaran narkoba, melainkan salah satu. Dan kecenderungan mereka sama, mencari pengembangan pasar yang salah satu sasarannya adalah pasar pelajar,” jelasnya.
Jalur TKI ilegal ini, ungkap dia, menjadi salah satu jalur peredaran yang dipilih oleh para bandar yang masuk jaringan Malaysia, karena jalurnya yang dianggap relatif aman. Sebab, mereka rute perjalanan mereka melalui jalur tikus yang tidak terlalu terpantau petugas keamanan, baik Indonesia maupun Malaysia.
Mereka melalui jalur bus dan pelabuhan-pelabuhan tradisional sehingga dianggap lebih aman karena tidak melalui mesin pendeteksi.
Kepala Satuan Narkoba Polres Pamekasan, Ajun Komisaris Mohammad Sjaiful, mengakui peredaran narkoba di wilayah Madura juga melalui jalur TKI ilegal dari Malaysia. Bahkan, dua tersangka yang ditangkap bulan lalu juga masuk dalam jaringan ini.
“Mereka menggunakan jalur-jalur pelabuhan tradisional saat masuk ke Madura,” katanya pertengahan Maret lalu.
Mereka, jelas Sjaiful, bukan TKI, namun memiliki hubungan bisnis haram tersebut dengan para tenaga kerja ilegal yang bekerja di Malaysia. Di sisi lain, para TKI yang masuk melalui jalur ilegal itu menjadikannya peluang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka dan menutupi hutang untuk keberangkatan mereka bekerja.
Perlu Penguatan Moral Generasi
Keterlibatan para pelajar dalam peredaran dan penyalahgunaan narkoba menjadi keprihatinan tersendiri. Betapa tidak, kata Ketua BAANAR Pamekasan, Mohammad Hasan, calon-calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang itu, harusnya dibekali dengan hal-hal yang positif.
Ia menilai, masalah tersebut disebabkan karena terjadinya krisis pendidikan karakter di sekolah-sekolah dan lingkungan tempat tinggal mereka.
“Di satu sisi, orangtua menganggap pendidikan hanya cukup di sekolah dan tidak begitu peduli dengan kondisi pergaulan anak-anaknya, sedang di sisi lain sekolah tidak memiliki waktu cukup untuk terus memantau anak didiknya,” katanya.
Apalagi, jelas dia, pada kurikulum pendidikan saat ini masih lebih mengedepankan keterampilan otak dibanding kepekaan hati nurani.
Menurutnya, selain penegakan hukum, saat ini sangat diperlukan kegiatan penguatan moral di kalangan generasi muda, terutama pelajar. Penguatan generasi itu, harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk melalui orangtua mereka.
“Di tingkat pelajar, diperlukan penyadaran moral dan menanamkan gerakan anti narkoba, sementara di tingkat orangtua, dilakukan penyadaran akan tanggungjawab pendidikan dan pengawasan pergaulan,” jelas Hasan.
BAANAR, kata dia, saat ini sedang aktif melakukan sosialisasi anti narkoba di tingkat pelajar dan santri bekerjasama dengan Badan Narkotika Kabupaten (BNK), Kepolisian dan TNI. Sosialisasi itu dilakukan dengan cara mendatangi langsung ke sekolah-sekolah untuk memberikan penyadaran.
Namun, hal itu belum dia anggap cukup. Sebab, pendidikan mental dan moral generasi juga harus didukung oleh penciptaan lingkungan yang baik. Karenanya, peran tokoh agama sangat diperlukan dalam hal ini. Begitu juga dengan sistem keamanan lingkungan yang maksimal. (G. Mujtaba/DIK)