Oleh: Miqdad Husein
Pernyataan Al Gazali bahwa banyak orang puasa hanya mampu menahan lapar dan haus terasa ada benarnya. Pernyataan Al Gazali itu agaknya didasari hadis Nabi Muhammad yang menegaskan bahwa banyak orang puasa hanya memperoleh rasa lapar dan haus. Tidak lebih.
Ibadah puasa selintas terasa mudah dan memang sangat mudah jika sekedar menahan lapar dan haus. Siapapun yang memiliki fisik sehat jika ingin puasa dipastikan akan mampu menjalankannya. Bahkan puasa dapat menjadi instrumen mengembalikan kualitas fisik. Ini artinya, bukan hanya dijamin siapapun yang sehat dapat berpuasa, melalui puasa seseorang justru akan menjadi semakin sehat.
Puasa sekedar fisik itu disebut Al Gazali sebagai tingkatan paling rendah dalam nilai pencapaian tujuan puasa. Baru masuk pintu gerbang dan belum sampai ke inti puasa.
Ke inti puasa inilah yang paling sulit dilaksanakan. Sebuah semangat menahan diri, mengendalikan pemikiran dan ucapan serta berbagai perilaku kurang baik lainnya. Bisa jadi seseorang sedang puasa namun kelakuan, pemikiran dan sikap secara ironis justru bertentangan dengan tujuan puasa.
Kesulitan menggapai tujuan puasa melalui perilaku keseharian yang sejalan semangat puasa itu dapat dilihat secara kasat mata dalam kehidupan keseharian, terutama terkait aktivitas politik masyarakat. Bahkan dalam momentum puasa seperti sekarang ini, perilaku, pikiran dan lontaran pernyataan seperti langit dan dasar sumur dengan tujuan puasa.
Kata-kata kasar, ujaran kebencian masih bertebaran ketika umat Islam negeri ini sedang menjalankan ibadah puasa. Istilah setan gundul, sebutan kunyuk (monyet) dan masih banyak lagi bertebaran di tengah peribadatan yang menekankan kemampuan menahan diri. Puncaknya ketika seorang massa demonstran tanpa rasa bersalah berteriak akan memenggal kepala Presiden Jokowi. Sebelumnya, seorang dosen pascasarjana dari sebuah universitas di Bandung, ditangkap petugas dengan postingan sejenis: berisi kata-kata akan membunuh polisi dan lainnya.
Benar-benar sebuah kontradiksi luar biasa dengan ajaran puasa. Tergambar sangat jelas bahwa momen bulan puasa yang diharapkan meredakan ketegangan sama sekali tak berpengaruh.
Aktivitas keseharian memang tak boleh berhenti dengan dilaksanakannya ibadah puasa. Namun sejatinya, sejalan semangat ibadah puasa yaitu menahan diri dan mengendalikan diri setidaknya berbagai ucapan, kosakata kasar, ujaran kebencian ‘libur dulu.’
Pemilu 2019 terutama terkait Pilpres di negeri ini secara obyektif harus diakui telah memberikan pengaruh luar biasa terhadap perilaku masyarakat. Keramahan khas masyarakat negeri ini seakan pupus berubah menjadi mudah marah, melontarkan makin dan umpatan serta berbagai ujaran kebencian lainnya.
Diakui atau tidak masyarakat -paling tidak dari komunikasi media sosial- mengalami distorsi dalam berkomunikasi. Jika kepada seorang Presiden saja makian dan bahkan ancaman begitu mudah meluncur apalagi kepada orang lain, yang sama sekali tidak menyandang jabatan terhormat.
Kondisi inilah yang sebelumnya dikhawatirkan yaitu masyarakat mengalami kerusakan komunikasi sehingga mudah melontarkan makian, umpatan dan ujaran kebencian lainnya. Segala perbedaan disikapi amarah dan kebencian bukan kesadaran sebagai realitas keanekaragaman. Yang berbeda dianggap sebagai musuh sehingga layak mendapat semprotan kata-kata kasar dan bahkan sasaran kemarahan serta kebencian.
Karena momen politik berdekatan dengan pelaksanaan ibadah puasa, ada harapan tensi kemarahan dapat turun drastis. Namun ternyata harapan tinggal harapan. Puasa kali ini ternyata kurang berpengaruh pada pengendalian diri dalam perilaku politik. Politik ternyata masih belum berhasil tersentuh keindahan pengendalian puasa. Bisa jadi, seperti kata Al Gazali, kita masih berada di gerbang puasa; belum sampai subtansi puasa. (*)
*Kolumnis, tinggal di Jakarta.