SUMENEP, koranmadura.com – Memasuki musim kemarau di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, sejumlah petani mulai kesulitan pasokan air.
Hal ini dialami oleh Moh. Sofwan, salah seorang petani cabai asal Desa Bumbungan, Kecamatan Bluto. Saat ini tanaman cabai yang telah masuk masa produksi mengering dan banyak yang mati akibat kekurangan air. Sehingga tanaman cabai yang diharapkan bisa memberikan hasil maksimal malah gagal panen.
“Banyak tanaman cabai milik warga di sini mati karena sudah tidak disiram akibat tidak ada air,” katanya.
Pihaknya memprediksi hasil taninya selama ini tidak akan balik modal. Menurutnya, biaya yang sudah digunakan selama masa tanam hingga panen sudah capai Rp 3,5 juta.
Apalagi saat ini, kata dia, harga cabai milik petani berkisar Rp 10 ribu. Harga tersebut lebih tinggi Rp 2 ribu dari harga pada Maret 2019 lalu.
“Masalahnya sekarang bukan diharga, tapi pada pertaniannya. Kami kekurangan suplai air untuk mengairi lahan,” curhatnya.
Para petani berharap, pemerintah Kabupaten Sumenep menanggapi masalah krisis air di Desa Bumbungan. Seperti membangun bendungan air atau pengeboran air khusus pertanian sebagai solusi bagi petani agar tanaman di musim kemarau tidak gagal seperti yang terjadi pada petani cabai saat ini. (JUNAIDI/DIK)