SUMENEP, koranmadura.com – Pemkab Sumenep batal menggelar Pesta Rakyat dan Festival Ketupat di Pantai Lombang seperti yang telah tercantum dalam Kalender Event Visit 2019. Faktor tempat dan konsep menjadi alasan dipindahnya acara itu ke Pantai Slopeng.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep, Carto. Menurutnya, alasan pemindahan tempat itu karena Pantai Slopeng dianggap lebih strategis dan lebih dekat dengan pemukiman warga.
“(Kalau) tempat Lombang masyarkat jauh, (di Slopeng) masyarakat lebih dekat di sana, dan kami yakin nanti lebih banyak. (Kalau di Lombang) lebih jauh dari pemukiman (warga),” kata Carto, Senin, 10 Juni 2019.
Dilanjutkan Carto, selain masalah tempat, konsep yang bakal diusung nanti juga berbeda dengan pegelaran event tahun sebelumnya, yakni lebih mengangkat tradisi lokal.
“Modelnya mengangkat tradisi, tidak seperti dulu. Kita akan menggerakan masyarakat, sehingga benar-benar dinikmati oleh masyarakat, oleh rakyat,” jelasnya.
Mantan Asisten I Setkab Sumenep itu mencontohkan dengan cara membeli produk lokal. Menurutnya, setiap pengunjung nantinys akan mendapatkan fasilitas berupa makanan gratis saat berkunjung ke Pantai Slopeng.
“Kita berdayakan masyarakat di sana, masyarakat penjual soto, rujak, campor untuk diberi uang sama kita untuk digratiskan (pada pengunjung),” ungkapnya.
Konsep itu diyakini akan lebih efisien dari sisi anggaran dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi kerakyatan. “Jadi, punya (ada anggaran) Rp 10 juta pun jadi, kalau harga (rujak, soto, campur) Rp 7 ribuan, kan dapat berapa puluh ribu (porsi), kita berdayakan masyarakat di sana,” tandasnya.
Untuk diketahui, tahun ini terdapat 40 event yang bakal digelar. Namun, terdapat beberapa event yang telah gagal digelar, seperti Event Gelar Upacara Adat Penyerahan Zakat Fitrah yang sedianya digelar pada 31 Mei 2019 lalu, namun tidak terlaksana. (JUNAIDI/ROS/VEM)