KORANMADURA.com – Pada masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019, SMPN 2 Rejotangan Tulungagung hanya mendapatkan lima siswa, lantas bagaimana kondisinya saat ini?
Saat detikcom menyambangi SMPN Rejotangan, sejumlah siswa baru berseragam SD dan MI tampak bergerombol di depan kelas. Dengan membawa alat tulis, para siswa dengan seksama menggambar denah sekolah, sedangkan salah seorang guru ikut serta mendampingi dan memberikan pengarahan.
“Hari ini kami memulai kegiatan belajar mengajar, untuk kelas VII kami awali dengan kegiatan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah ) selama tiga hari. Tadi anak-anak sudah diajak keliling sekolah kemudian mereka disuruh untuk menggambar denahnya,” kata Kepala SMPN 2 Rejotangan, Sri Wahyuni, Senin (15/7/2019).
Tak ada bedanya dengan sekolah lain, program MPLS juga dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang , pihak sekolah memberikan materi dan pengenalan sekolah layaknya lembaga yang memiliki banyak siswa.
“Saat PPDB itu kami hanya dapat lima siswa, tapi Alhamdulillah ada tambahan empat siswa lagi sehingga totalnya sekarang ada sembilan siswa. Meskipun siswanya sedikit kami tetap berusaha memberikan yang terbaik,” ujarnya.
Minimnya jumlah murid bukan menjadi penghalang bagi para guru untuk memberikan pendidikan, bahkan salah satu bentuk keseriusannya, pihak SMPN 2 Rejotangan juga rela memberikan pengajaran lebih terhadap salah satu siswa yang masuk kategori Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
“Kami menerima murid bagaimanapun kondisinya, termasuk yang ABK juga kami terima, yang baru keluar tahun ini ada satu, kemudian yang saat ini naik kelas VIII ada dua anak, sedangkan siswa baru ada satu ABK,” ujar wanita yang akrab disapa Chorie ini.
Kata dia penerimaan siswa berkebutuhan khusus tersebut bukan semata-mata akibat kekurangan murid, namun menjadi salah satu bentuk tanggungjawab sekolah untuk memberikan pendidikan yang setara terhadap seluruh lapisan masyarakat.
“Kami biasanya akan menyesuaikan kondisinya, kalau yang saat ini memang masih sedikit mengalami kelemahan dari sisi baca tulis, sehingga perlu ada pendampingan khusus, seperti yang kita lihat tadi, dia harus didampingi,” imbuhnya.
Sri Wahyuni mengaku memiliki sejumlah tantangan untuk memberikan pendidikan inklusif, salah satunya terkait stigma dari siswa lain. Biasanya para siswa perlu melakukan adaptasi terhadap ABK sehingga bisa diterima dalam pergaulan seperti siswa lain.
“Ya itu bisa kami maklumi, tapi nanti seiring berjalannya waktu akan terbiasa dan mereka dapat bergaul dengan yang lain,” imbuhnya.
Kepala sekolah menambahkan hingga saat ini pihaknya masih membuka pendaftaran siswa baru. Pendaftaran akan ditutup pada saat dilakukan proses pemutakhiran Data Pokok Pendidikan (Dapodik) September mendatang.
“Sesuai petunjuk dari Disdikpora (Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga) kami masih bisa melakukan penerimaan siswa baru,” jelasnya.
(DETIK.com/ROS/VEM)