SAMPANG, koranmadura.com – Kursi perlemen di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, didominasi oleh wajah baru. Hal tersebut berdasarkan hasil penetapan Calon Legislatif (Caleg) terpilih pada kontestasi pemilu 2019 lalu.
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sampang, Addy Imansyah menyatakan, dari 45 kursi yang tersedia di parlemen ada sebanyak 29 caleg terpilih dengan wajah baru. Sedangkan 16 caleg terpilih lainnya merupakan wajah lama (inkumben). Sedangkan jika digolongkan jenis kelaminnya, Addy menyebutkan ada tiga caleg terpilih berjenis kelamin perempuan dan 42 caleg terpilih lainnya berjenis kelamin laki-laki.
“Jika dipersentasekan 29 caleg periode baru yaitu 64 persen. Sedangkan yang periode lama yaitu 16 caleg atau sebanyak 36 persen,” katanya, Selasa, 13 Agustus 2019.
Sedangkan berdasarkan dominasi perolehan kursi, lanjut Addy mengatakan rata-rata setiap Daerah Pemilihan (Dapil) dengan porsi banyak untuk wajah baru berada di dapil 1 dan 2.
“Yang dominan hasil perolehan kursi untuk wajah baru itu di dapil 2 dan 3 dengan perolehan di dapil 2 yaitu lima kursi untuk wajah baru dan satu kursi untuk inkumben dan kemudian di dapil 3 yaitu 6 kursi untuk wajah baru dan 1 kursi untuk inkumben. Selanjutnya perolehan kursi yang dominan untuk inkumben yaitu di dapil 4 dengan perolehan lima kursi untuk inkumben dan tiga untuk yang baru. Kemudian perolehan kursi yang imbang yaitu berada di dapil 1 dengan perolehan masing-masing mendapatkan 4 kursi,” paparnya.
Dosen Komunikasi Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam menilai, didominasinya wajah baru di kursi parlemen diakuinya terdapat nilai plus dan minusnya. Minusnya, yaitu berkenaan dengan pengalaman kerja. Akan tetapi nilai plusnya, terdapat semangat baru yang mengarah pada pembaharuan.
“Sejauh ini tantangan terberat parlemen baru ya pada bidang tugas legislasinya. Tapi dua tugas yang lain yaitu pada pengawasan dan budgeting, saya pikir akan beradaptasi dengan cepat. Sedangkan untuk tantangannya tidak hanya pada konten tetapi juga konteks di mana legislator harus punya progresivitas dan juga visioner yang bisa sesuai dengan ekspektasi publik. Memang harmonisasi itu sungguh berat dan butuh kompetensi khusus bagi legislator baru,” hematnya.
Namun demikian, Dekan Fisib ini berharap bagi legislator baru diharapkan langsung action dengan tugas parlemen dan proses adaptasi tidak perlu harus lama. Bahkan para legislator baru nantinya diharuskan bisa akseleratif sehingga bisa mengubah performa dewan daerah yang sejauh ini masih dianggap belum prestatif.
“Banyaknya legislator inkumben yang tidak lolos bisa jadi menunjukkan salah satu indikator ketidakberhasilan inkumben menjalanlan tugas sebagai wakil rakyat. Pemilih bisa jadi tidak respek dengan kinerja mereka selama mengemban amanah. Tapi itu salah satu saja lho ya. Sehingga pemilih menjatuhkan pilihannya pada pilihan legislator baru,” katanya.
Tidak hanya itu, Peneliti Puskakom Publik ini menyampaikan, mendominasinya legislator baru dikarenakan masyarakat semakin kritis dan membutuhkan peran yang lebih nyata dan konkret dari kerja para wakil rakyat.
“Di Madura, relasi dan patron masih sangat kuat, sehingga menjadikan tantangan berat bagi para kontestan. Akan tetapi harus dibuktikan, sehingga punya daya energi positif untuk prestasi. Bukan malah asal-asalan menjadi seorang wakil rakyat. Sesungguhnya kinerja lah yang akan menjadi ukuran. Mereka harus sungguh-sungguh, sehingga pandangan minor terhadap mereka yang terpilih karena patron itu bisa diminimalisasi,” paparnya. (MUHLIS/SOE/VEM)