SAMPANG, koranmadura.com – Kekeringan yang melanda wilayah Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur tidak hanya berdampak pada kebutuhan air bersih, tetapi juga berdampak pada sektor pertanian.
Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sampang, Suyono menyatakan, kekeringan yang melanda di wilayahnya berdampak pada lahan pertanian padi milik masyarakat. Berdasarkan catatannya, luasan lahan pertanian padi yang rusak akibat dampak kekeringan mencapai sebanyak 899 hektare dengan rincian rusak ringan 176 hektare, rusak sedang 60 hektare, rusak berat 15 hektare, dan padi menjadi puso sebanyak 648 hektar.
“Untuk lahan pertanian padi itu sebenarnya menyebar di 14 Kecamatan. Tapi daerah lahan pertanian padi yang banyak mengalami kerusakan hingga puso sebanyak 648 hektare. Itu terjadi di Kecamatan Jrengik, Kedungdung, Torjun, dan Sampang. Dan terbanyak berada di daerah Kecamatan Jrengik, yaitu mencapai 560 hektar. Tapi sekarang sementara tanaman padi yang mengalami kerusakan masih lebih sedikit jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai seribu hektare lebih,” katanya, Rabu, 14 Agustus 2019.
Menurut Suyono, waktu musim kemarau di wilayahnya diprediksi masih akan berlangsung hingga Oktober 2019 mendatang. Bahkan pihaknya menyarankan agar para petani melakukan aktivitas cocok tanam di bula April. Termasuk tanamannya berada di dekat sumber air, agar saat terjadi kemarau panjang, padinya mudah dialiri air.
“Makanya kami selalu mewanti-wanti memberikan saran kepada masyarakat apabila hendak di awal bercocok tanam pada April 2019 lalu agar diupayakan di sekitar daerah irigasi (DI) atau sumber-sumber air yang ada. Karena berakhirnya musim kemarau di Sampang selalu lebih akhir dibandingkan daerah lainnya,” sarannya kepada warga.
Ditanya solusi mengatasi masalah klasik ini, pihaknya mengaku sudah berupaya untuk mengusulkan program pompanisasi kepada kementerian. Namun, sementara ini, program Kementerian belum mengarah ke program air permukaan.
“Mungkin teman-teman OPD lainnya seperti Dinas PU punya solusi sendiri untuk jangka panjang ini. Sebenarnya upaya solusi jangka pangkang itu sudah ada tapi belum maksimal. Seperti adanya pompa kan sudah ada. Makanya kami juga mencari pos anggaran lain seperti di Provinsi,” katanya. (Muhlis/SOE/VEM)