SAMPANG, koranmadura.com – Pembangunan jembatan Sreseh-Sampang atau Srepang Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur masih terkendala oleh pembebahasan lahan. Pasalnya, sampai saat ini lahan yang baru dibebaskan hanya 5 hektare dari rencana 15 hektare.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Sampang, Tony Moerdiwanto mengatakan, pembangunan Srepang terus berlanjut, bahkan pihaknya mengaku Penetapan Lokasi (Penlok) sudah keluar pekan lalu.
“Sebelum Penlok itu keluar pada pekan lalu, kami sudah menugaskan PUPR, konsultan, pihak kecamatan dan desa untuk melakukan pendataan. Setelah pendataan selesai, maka data-data dan Penlok akan diproses di BPN,” katanya, Senin, 26 Agustus 2019.
Tony menegaskan, setelah proses di BPN selesai, akan dilakukan tahapan penilaian harga oleh jasa Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) guna membayar ganti rugi lahan milik warga.
“Kami tidak mau berlarut-larut, sebisa mungkin Oktober 2019 mendatang harus sudah membayar, karena kami sudah menyediakan anggaran hampir Rp 10 miliar di PAK tahun anggaran 2019. Dan anggaran itu merupakan tambahan dan harus terserap, itu perintah Bupati,” katanya.
Menurutnya, pada anggaran tahun sebelumnya, pembangunan Srepang telah dianggarkan senilai Rp 15 miliar dari APBD. Namun dari anggaran tersebut hanya terserap Rp 5 miliar. Sehingga pada tahun anggaran 2019, sisa anggaran yang belum terserap dimasukan kembali pada Perubahan Anggaran Kegiatan (PAK) atau APBD Perubahan.
“Nanti kami dorong OPD PUPR agar bisa menyerap anggaran itu, karena mau tidak mau anggaran Rp 10 miliar ditambah anggaran di PAK harus terealisasi karena 2020 nanti harus tuntas baik di Kecamatan Sreseh dan Pengarengan. Karena nanti akan ditambah Rp 15 miliar lagi,” terangnya.
Ditanya lahan yang sudah dibebaskan, Tony mengaku masih terbebaskan seluas 5 hektare dari 15 hektare yang direncanakan di titik Kecamatan Sreseh.
“Kemarin masih dapat 5 hektare. Masih ada 15 hektare lagi di titik Kecamatan Sreseh yang mau dibebaskan. Kalau lahan di titik Kecamatan Pengarengan itu lain lagi,” akunya.
Namun demikian, pihaknya menargetkan pada 2020 mendatang pembebasan lahan harus tuntas agar pembangunan Jembatan Srepang segera diajukan ke pemerintah Pusat.
“Di Sreseh ada pembangunan lima jembatan yang digarap PUPR, tapi yang paling penting itu jembatan Srepangnya karena Kecamatan Sreseh merupakan kecamatan yang terisolir. Warga yang hendak ke Sampang kota harus melewati Kabupaten Bangkalan dulu melalui Kecamatan Blega,” ungkapnya. (MUHLIS/SOE/DIK)