SAMPANG, koranmadura.com – Sebanyak 24 warga asal Sampang, Madura, Jawa Timur yang jadi korban kerusuhan di Wamena telah tiba dengan selamat, Rabu malam, 2 Oktober 2019. Mereka dijemput langsung oleh Bupati Slamet Junaidi di Bandara Abdul Rahman Saleh, Malang.
Pantauan koranmadura.com, rombongan Bupati bersama warga tiba di Pendapa Trunojoyo, Sampang, sekitar pukul 22.12 WIB dengan menggunakan bus. Setelah itu, korban menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum diantarkan ke rumahnya masing-masing.
Baca: 21 Warga Sampang Korban Konflik Wamena Proses Pemulangan dari Surabaya, 5 Orang Masih Anak-anak
Bupati Sampang, Slamet Junaidi menyatakan, dirinya melakukan pengawalan dan penjemputan langsung di Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Para korban Wamena dievakuasi menggunakan Hercules berkapasitas sekitar 100 penumpang. Tidak hanya itu saja, dirinya mengaku juga melakukan pengawalan ketika pendataan di Kantor Bakorwil, Malang, hingga kepulangannya ke Sampang.
“Dari data terakhir, ada sebanyak 24 warga kami yang pulang dari Wamena, enam diantaranya masih balita. Tapi yang tiba di Sampang cuma ada 15 orang karena 9 orang lainnya dijemput keluarganya di Surabaya diantaranya di daerah Kedinding, Ampel dan Wonokromo,” katanya di Pendapa Trunojoyo Sampang usai menjemput para korban.
Berdasarkan cerita warganya, Aba Idi sapaan akrabnya menyampaikan, sebelum tiba di Bandara Malang, para korban bermalam di Pulau Biak, Teluk Cendrawasih, sebelah utara pesisir Papua.
“Alhamdulilah semuanya selamat hingga tiba di Sampang. InsyaAllah akan ada lagi yang menyusul,” katanya.
Ditambahkan Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang, Agus Mulyadi menyampaikan, semua korban konflik Wamena sebelum diantarkan ke rumah masing-masing masih dilakukan pemeriksaan kesehatannya.
“Dilakukan pemeriksaan untuk memastikan kesehatan setiap individu. Tapi alhamdulillah semua yang tiba malam ini sehat semua,” terangnya.
Sekadar diketahui, pada Minggu, 29 September 2019 kemarin, ada sebanyak 34 warga Sampang yang telah dipulangkan terlebih dahulu. Puluhan warga sampang pada gelombang pertama yang dipulangkan kebanyakan berprofesi sebagai sopir. (MUHLIS/SOE/DIK)