SAMPANG, koranmadura.com – Warga Sampang terdampak konflik di Wamena, Papua, dijemput langsung Bupati Slamet Junaidi. Bahkan, bupati membatalkan agendanya menuju Universitas Nagoya, Jepang.
“Ini lebih urgent ya, karena ini nasib kemanusian yang tidak bisa ditangguhkan lagi. Keamanan dan keselamatan rakyat kami itu perioritas,” ungkapnya, Kamis, 3 Oktober 2019.
Menurutnya, jadwal keberangkatan pihaknya ke Jepang diagendakan pada 30 September 2019 lalu. Akan tetapi, peristiwa konflik Wamena yang diinformasikan juga terdapat warganya terdmpak menjadi prioritas bupati.
“Kami diminta di acara Universitas Nagoya, Jepang, sebagai pemateri. Kemudian kami juga akan bertemu perusahaan-perusahan Nagoya yang ingin berinvestasi di Sampang. Dan tentunya kami akan menjual Sampang di Jepang agar investor tertarik ke Sampang,” tambahnya.
Sehingga, lanjut Slamet Junaidi, dengan masuknya para investor Jepang ke wilayahnya, akan dipastikan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Tujuan kmai ke Jepang tidak lain untuk memasarkan Sampang agar PAD terdongkrak,” terangnya.
Sekadar diketahui, Bupati Sampang, Slamet Junaidi mendampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, melakukan penjemputan warga Jawa Timur, termasuk warga Sampang yang menjadi korban konflik Wamena, Papua, di Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, pada Rabu, 2 Oktober 2019. (MUHLIS/ROS/VEM)