SAMPANG, koranmadura.com – Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur dari sistem sewa pakai alat berat jauh dari target. Pegiat Pusat Informasi dan Advokasi Rakyat (PIAR) menilai kinerja Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten setempat tak maksimal.
Ketua pegiat Piar, Abd Hamid menyampaikan, berdasarkan hasil kajian data pihaknya, sebanyak 20 jenis alat berat yang dimiliki Dinas PUPR, sejak awal Januari hingga triwulan ketiga atau per 30 september 2019 hanya mampu mencapai 11 persen dari target PAD yang sudah ditentukan.
“Jelas sistem sewa alat berat yang dikelola PUPR menjadi bancakan saja, karena hingga 30 September 2019 lalu hanya mampu meraup pemasukan 11 persen saja. Padahal anggaran biaya perawatan alat berat tahun 2019 berkisar 100 juta lebih,” tuding Abd Hamid, usai beraudiensi dengan pejabat PUPR setempat, Rabu, 23 Oktober 2019.
Tudingan itu, menurut Abd Hamid bukan hanya isapan jempol belaka. Terbukti, sejak Januari hingga 30 September 2019, pendapatan dari sistem sewa alat berat jenis mesin gilas hanya mencapai 11 persen dari target PAD senilia Rp 220 juta. Kemudian, sewa truk hanya Rp 20 juta dari target PAD senilai Rp 120 juta.
“Setelah kami analisa, pendapatan itu sangat jelas tidak berimbang dengan PAD yang didapat. Dan kami prediksikan ada oknum yang ingin bermain dalam penggunaan anggaran sewa menyewa ini. Jika seandainya sistem sewa itu dikelola pihak swasta, dalam kondisi merugi seperti itu, kami pastikan akan gulung tikar. Makanya kami buka pintu bagi pihak penegak hukum untuk mengauditnya,” ujarnya.
Sementara Kabid Pembekalan Peralatan dan Penanganan Mutu, Dinas PUPR Kabupaten Sampang, Erwin Elmi Syahrial menepis tudingan PIAR. Menurutnya, target PAD dalam sistem sewa pakai alat berat hingga Oktober 2019 sudah melebihi 11 persen. Hanya saja pihaknya mengakui bahwa terdapat hambatan dalam pemakaian alat-alat berat pada pengerjaan kontruksi.
“Yang disampaikan teman-teman kan sampai September, kalau sampai Oktober sudah melebihi 11 persen. Dan memang sekarang ada kendala yaitu kontruksi pengerjaan sudah berbeda. Sehingga alat kami, pemakaiannya juga ikut berkurang, misal kontruksi Lapen dengan Beton kan berbeda, jadi pembetonan sudah tidak lagi pakai mesin gilas tapi pakai molen. Sehingga pemakaian alat kami menjadi berkurang, ketika Lapen bisa sampek 10 kali dalam satu pekerjaan, sakarang malah hanya sekali saja,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga membutuhkan peremajaan alat. Bahkan pihaknya mengaku pesimis dapat mencapai target PAD jika melihat kondisi alat dengan jenis konstruksi pengerjaan saat ini.
“Jujur kami pesimis, karena kontruksi kegiatan kami semuanya tidak ada lagi Lapen,” akunya. (Muhlis/SOE/VEM)