KORANMADURA.com – Begitu banyak media yang ikut menyampaikan ragam informasi di era digital saat ini. Mulai dari trend, mode, olah raga, pemberdayaan perempuan, politik, keamanan, dan tema lainnya. Tetapi secara garis besar, kabar yang dihembuskan tergolong ke empat mazhab. Para jurnalis jaman now mengikuti cara senior jurnalis jaman old yang lebih dulu merintis karir di jurnalistik.
Informasi yang dihimpun dari LSAI (Lembaga Studi Arus Informasi) Sumenep menyebutkan, corak narasi yang muncul di media visual, audio, maupun audio visual beraroma Hajarian (Ibnu Hajar), Hambalian (Hambali Rasyidi), Rifaian (A Rifai Adit), dan Abrarian (Abrari Alzael). Keempat tokoh jurnalis jaman old itu sampai hari ini masih tegak lurus dengan garis jurnalistik. Meskipun, mereka juga berkiprah di lembaga yang lain sebagai bentuk metamorfosa diri, supaya terhindar dari perkembangbiakan dalam asbak.
Pertama, Ibnu Hajar. Lelaki itu lahir di Sumenep, 07 Juli 1971. Jurnalis jaman old ini, memiliki gaya berbeda saat membuat narasi yang disuarakannya di Nada FM. Kalimatnya puitis, seperti meng-Arya Dwipangga publik, membuat pendengarnya menenggelamkan kepala. Ini dimaklumi karena sebagai wartawan, lelaki yang akrab disapa Mas Ibnu ini bertindak sebagai sastrawan juga. Beberapa karyanya berupa puisi tersebar di majalah Swadesi, Pelita, Koran Yogya Post, Karya Darma, Bhirawa, dan masih banyak yang lainnya.
Dalam konteks narasi, Ibnu mengadaptasi John F. Kenedy, mantan Presiden Amerika Serikat yang terkenal dengan ucapannya; jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Apabila politik bengkok, sastra akan meluruskannya. Itulah sebabnya, narasi Hajarian ini membuat penikmat berita merasa lebih muda karena jurnaslisme-sastra ala Ibnu Hajar dirasa sejuk pada satu sisi dan menikam pada katup yang lain. Menikmati narasi Ibnu, seperti selalu ingin berkhayal tentang romantisme, teduh, dan dikepung kedamaian.
Sebagai penyair, satu sisi Ibnu pernah dijuluki Chairil Anwar-nya Sumenep. Ini karena diksi dan postur yang tidak jauh berbeda dibanding Chairil Anwar. Di satu segmen lainnya, dia lebih pas sebaai WS Rendra; kata yang lugas, tetap merasa muda, dan selalu ada cinta di hampir setiap narasinya. Sebagai jurnalis, Ibnu mengadaptasi Antonio Gramsci pada narasi dan dialektika sebagai gagasan awal untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa.
Kedua, informasi yang bercorak Hambalian (Hambali Rasyidi). Hambali meniti karier jurnalisitik di Jawa Pos – Radar Madura tahun 2000 an. Ia sangat terkenal di jamannya terutama pada saat bertugas di Pamekasan. Anak pulau ini seperti mengingkari rubaiat angin yang menjadikan pelaut sebagai nenek moyang. Hambali, saat itu memilih menjadi pembalap dengan dua pilihan, ngebut atau ngerem mendadak.
Resign dari grup Jawa Pos, lelaki Sepudi itu uzlah dan bertekad untuk menjadi sufi (modern) dengan cara tawasul ke makam leluhur Sumenep, antara lain Buju’ Katandur. Tetapi, Hambali merasa tidak sepenuhnya cocok menjadi sufi di jaman gonjang-ganjing ini. Usai keluar dari pertapaan, lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya ini membuat sarang jurnalistik baru yang digawanginya, Mata Madura. Di sinilah dia membangun narasi dan wacana alam baka. Tulisannya aktif, kreatif, dan (kadang-kadang) provokatif. Tidak jarang para pihak mengernyitkan dahi karena tulisannya yang mengipaskan runcing mata pena, dan berdarah tanpa luka.
Hambali kemudian dibicarakan banyak orang karena gaya tulisannya yang agresif pada awalnya, tetapi ketika didalami, berdamai pada akhirnya. Di kiblat jurnalistik lokal-regional, tidak sedikit yang merasa teriris karenanya dan banyak juga yang merasa sembuh justru karena narasinya. Itu sebabnya, narasi yang dibangun sebagai perpaduan lukisan dan foto dalam kanvas yang sama, menggambarkan potret publik yang berdarah pada dirinya, dan gores luka di tubuh yang lain.
Ketiga, jurnalisme bercorak Rifaian. Pria yang memiliki nama lengkap A Rifai Adit ini dikenal sebagai lelaki yang jarang bicara. Tetapi tulisan-tulisannya tajam. Dia mengibarkan narasi Black and White Jurnalism. Ini sesuai dengan background pria yang disapa Adit itu yang berlatar hukum. Itu sebabnya, narasi yang dibangun selalu pro justicia.
Di dalam psikologi massa, jika seseorang jarang berbicara dengan mulutnya, umumnya orang akan berdialog dengan cara yang lain untuk menyampaikan pesannya. Di sinilah Adit hadir. Sekali tembak, tidak meleset dan tidak perlu banyak peluru untuk sekedar berburu. Lelaki cool yang memilih karakter diri sebagai cool man itu bersinergi dengan hobinya, menembak. Sekali dor, target terkapar.
Apabila dunia identik sebagai panggung sandiwara, sosok Adit berikut karakter tulisannya, merupakan conditio sine qua noon (sesuatu yang harus ada) dalam seni peran. Jika di KPK ada istilah India dan Taliban, sebenarnya Adit Rifai tidak sedang berada dalam faksi itu. Ia memilih jalannya sendiri sebagai prajurit jurnalistik yang siap pada bumi yang dipijak dan bertahan di bumi yang dijunjung sebagai pihak yang bertanggungjawab dalam penguatan demokrasi dan civil society.
Keempat, jurnalisme bercorak Abrarian (Abrari Alzael). Sosok yang akrab disapa Abe ini merupakan lelaki yang tidak suka berkonflik. Publik menilai magister psikologi itu sebagai sang resi dan penggagas jurnalisme-solutif. Selain sebagai jurnalis senior, Abe terkenal dengan narasinya yang nyelekit. Melalui tulisannya, publik tersenyum dan menggelengkan kepala. Bagi yang disinggung, merasa tersindir, menyadari dengan cara tersenyum lalu menertawakan dirinya sendiri.
Pria yang pernah bermukim di Jakarta ini membiarkan kata itu sendiri yang menjelaskan maknanya kepada publik. Sehingga tak ada publik yang geram kecuali tersenyum, menarik nafas panjang dan menggeleng. Abe, pernah dijuluki sebagai Gunawan Mohamad-nya Madura karena menggores dengan silet pada saat pihak lain menggaris dengan gergaji. Jika orang terluka karena silet, pada mulanya terasa dingin, tetapi lama-lama terasa perih. Begitulah jurnalitik bercorak Abrarian. Berbeda dengan menggores dengan gergaji yang menyebabkan luka tak rapi pada pedih yang tak terpatri.
Membaca narasi jurnalis (Sumenep) saat ini, tekstur literasinya tidak beranjak jauh-jauh dari senior jurnalis yang pernah berkarir saat usia mereka belum memasuki usia kerasulan. Tetapi saat ini, jurnalis jaman old itu telah merasakan dirinya yang tak lagi muda dari sisi usia. Ibnu Hajar tetap bekerja sebagai jurnalis meski ia memiliki kesibukan di tempat yang lain. Begitu juga Hambali Rasyidi dan Adit Rifai, tidak muda lagi meski belum cukup syarat disebut tua. Abrari Alzael juga sama nasibnya, memilih dewasa dan tak pernah kehilangan ide untuk tetap inovatif dalam riwayat masa depan jurnalistik.
Direktur LSAI (Lembaga Studi Arus Informasi) Sumenep, Hosnan merasa penting memelototi karya jurnalistik, terutama menyangkut kesumenepan. Menurutnya, ada banyak pola dalam membangun teks dan narasi. Diantaranya mengadaptasi karya jurnalistik para senior wartawan yang pernah terjadi di era 2000 an awal. Tetapi, dalam amatannya, ada juga narasi-jurnalistik yang dibangun dengan alasan “dalam rangka” yang beraroma tendensius dengan model hit and run (maju mundur) tergantung kepentingan dan keuntungan. “Saya amati, corak gaya narasi jurnalistik mirip landing pesawat. Ada soft landing dan hard landing, dia member i’tibar,” ucapnya. (TIM/SOE/DIK)