SAMPANG, koranmadura.com – Sumber mata air yang ada di Desa Batuporo Barat, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, tidak jadi solusi kekeringan saat musim kemarau. Padahal, sumber mata air tersebut sudah ada sejak 10 tahun lalu.
Salah seorang tokoh masyarakat di desa setempat, Sulaiman (50), mengaku, ditemukannya dua sumber mata air di desanya saat pihak pertamina sedang mencari titik minyak, namun saat dilakukan pengeboran sedalam 25 meter, bukan minyak yang ditemukan melainkan semburan sumber mata air.
“Sudah 10 tahun sejak ditemukannya sumber mata air itu. Keberadaan sumber mata air ini hanya dimanfaatkan seadanya oleh warga setempat. Dan memang ketika musim kemarau yang berkepanjangan, sejumlah desa tetangga mengambilnya ke sini,” ujarnya, Selasa, 29 Oktober 2019.
Sementara Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sampang, Alan Kaisan mengaku, keberadaan sumber mata air di Desa Batuporo Barat menjadi sumber kehidupan bagi warga desa setempat.
Bahkan, pihaknya memperkirakan, sumber mata air yang terpancar dimungkinkan mencukupi hingga beberapa desa.
“Memang perlu ada pengukuran debet air untuk memastikan ketersedian dan kecukupan air. Maka dari itu, kami akan rapatkan di tingkat komisi maupun fraksi serta kepada pemerintah agar memperhatikan keberadaan dan pemanfaatannya kepada masyarakat. Ketika kami tinjau ke lokasi, kondisi air sangat baik mugkin besaran debet air mampu mencukupi lebih dari satu desa. Syukur-syukur mampu mencukupi satu kecamatan,” ungkapnya.
Beradasarkan data yang diperolehnya, sebanyak 67 desa di wilayah Kabupaten Sampang mengalami kekeringan krisis, termasuk di daerah kecamatan Kedungdung. (MUHLIS/ROS/VEM)