SAMPANG, koranmadura.com – Pengelolaan pasar rakyat “Sepolo Areh” pada rentetan kegiatan hari jadi Pemkab Sampang ke-396 bukan hanya menuai sorotan, melainkan juga membuat Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat naik pitam.
Bahkan Komisi IV “mengharamkan” Event Organizer (EO) DMR Production melakukan bisnis di wilayah Sampang.
“Haram hukumnya EO DMR Production Surabaya ini kembali ke Sampang, karena ini adalah pasar rakyat, tapi dia tidak memihak kepada rakyat. Apalagi EO ini tidak ada MoU dengan BP2KAD. Buktinya soal karcis yang tidak transparan dan samacamnya, malah masih akan dikerjakan sekarang, bahkan hari ini baru akan koordinasi dengan BP2KAD. Ini kan gila. Makanya tadi kami minta EO DMR jangan pernah kembali lagi ke Sampang,” ungkap Anggota Komisi IV, Moh. Iqbal Fathoni dengan nada kesal saat memanggil EO dan Disporabudpar
Bahkan Bung Fafan sapaan akrab Moh Iqbal Fathoni menekan pihak EO agar bisa memberikan dampak ke PAD, bukan malah seenaknya sendiri, menyisakan ‘sampah’, lalu pulang.
“Kan belum ada MoU yang jelas, padahal ada beberapa tahapan yang harus dilewati oleh pelaksana untuk mengadakan acara di Sampang. Makanya kami sampaikan kepada pelaksana, harus ada pemasukan ke Pemkab. Kan acaranya di Sampang, wajar dong Sampang merasakan hasilnya sebagai sumber PAD,” tegasnya.
Ditanya soal sewa stand sebesar Rp 2 juta, Bung Fafan mengaku, alasan dari EO adalah hanya sebatas penawaran. Namun demikian, pihaknya tidak lantas mempercayainya.
“Perhitungan kami ada 91 stand yang berbayar Rp 2 juta, tapi pihak EO menyatakan 61 stand, jadi ada senilai Rp 182 juta uang sampang yang dibawa keluar Sampang,” tegasnya dengan ekspresi kesal.
Bung Fafan mengaku juga sangat menyesalkan ketika pengisi acara pembukaan Festival Kesenian Pesisir Utara (FKPU) memakai vokalis dari luar daerah. Padahal menurutnya, vokalis akustik karya anak muda Sampang justru lebih enak didengar dibandingkan dengan vakolis akustik yang sudah didatangkan dari luar daerah.
“Soal FKPU, yang kami sesalkan yaitu karena Disporabudpar Sampang, setiap bulan mengadakan musik akustik, tapi mengapa harus memakai karya orang luar daerah. Sempat tadi kami dengarkan suara vokalis akustik pemuda Sampang dengan speaker mini, justru lebih bagus dibandingkan yang didatangkan dari luar. Jadi kami malah menganggap, mereka justru mau meremehkan karya dan kemampuan Sampang,” akunya.
Plt Kepala Disporabudpar Sampang, Imam Sanusi usai menggelar rapat dengan Komisi IV mengatakan, adanya polemik tersebut merupakan keteledoran. Oleh karena itu, pihaknya berjanji akan memperketat soal MoU dengan pihak EO, terlebih jika EO berasal dari luar Sampang.
“Kedepannya kita harus lebih fokus lagi dengan pihak penyelenggara dengan cara MoUnya jelas. Karena ini sudah berjalan ya kita tuntaskan dulu acara ini. Untuk ke depannya kita tetap akan koreksi untuk kegiatan yang akan datang,” janjinya. (Muhlis/SOE/VEM)