SUMENEP, koranmadura.com – Budaya literasi di lingkungan Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, sejauh ini belum terlalu mengakar. Di samping minat baca-tulis masyarakat yang minim, sarana dan prasarana yang ada juga belum memadai.
Kondisi seperti ini tak dipungkiri oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumenep, Ahmad Masuni. Menurut dia, akses masyarakat untuk mendapat pelayanan kepustakaan sejauh ini masih terbatas.
Menurutnya, minimnya sarana dan prasarana kepustakaan itu berdampak pada tingkat literasi masyarakat. Sehingga ke depan, menurut dia, Pemkab perlu memberikan pelayanan literasi dan kepustakaan lebih kepada masyarakat.
“Untuk membangun budaya literasi, tentu masyarakat harus diberikan akses yang memadai. Karena budaya literasi itu akan sangat sulit terbangun jika sarana penunjang yang ada masih terbatas,” ujarnya.
Bahkan dia mengakui, bahwa jumlah buku yang ada di Perpustakaan Daerah tidak sebanding dengan jumlah penduduk di kabupaten paling timur Pulau Madura ini. Salah satu kendalanya ialah anggaran yang terbatas.
“Bisa dibayangkan bagaimana bisa koleksi buku di perpustakaan memadahi, kalau anggaran tiap tahun untuk pengadaan hanya sekitar 100 juta,” tambah mantan Kepala DPMD Sumenep ini.
Terlepas dari hal tersebut, dalam rangka menumbuh-kembangkan budaya literasi di Sumenep, menurut Masuni pihaknya sudan kerjasama dengan sekolah-sekolah dan merancang program Pusling atau perpustakaan keliling.
“Ke depan kami juga mencanangkan gerakan kampanye literasi di Kabupaten Sumenep dan membentuk komunitas-komunitas literasi di kecamatan-kecamatan,” ungkap dia. (FATHOL ALIF/SOE/VEM)