Oleh : Miqdad Husein
Gonjang ganjing kasus di Garuda menebarkan pesimisme tentang pengelolaan BUMN di negeri ini. Apalagi ketika diketahui apa yang terjadi di Garuda yang memperlihatkan BUMN seakan jadi bancakan merupakan hal biasa dan diduga terjadi pula di BUMN lainnya. Hanya karena lagi apes sepak terjang Direktur Utama Garuda ketahuan.
Berbagai modus yang menjadikan BUMN sebagai bancakan sebenarnya sudah sering terdengar. Antara lain pernah ditegaskan pengamat ekonomi Faisal Basri dan ahli BUMN Sunarsip. Pola-pola yang dikembangkan seperti ditegaskan keduanya terpapar sangat canggih sehingga terkesan tidak melanggar undang-undang.
Yang belum lama terungkap di Garuda memanipulasi laporan keuangan seakan BUMN itu laba. Lalu jajaran direksi bagi-bagi bonus ‘keuntungan’ fiktif.
Ada pola bancakan yang tampak berlindung dibalik kebijakan normatif. Yang paling sederhana pemberian THR di lingkungan BUMN yang konon ada yang sampai berkali-kali gaji. Dengan demikian jika THR lima kali gaji misalnya, karyawan BUMN berarti mendapat 17 kali gaji setahun. Itu belum dihitung bonus akhir tahun dan lainnya.
Jika BUMN itu tergolong sehat dan berdasarkan perhitungan ternyata mendapat keuntungan, mungkin masih bisa sedikit dimaklumi walau tetap perlu dipertanyakan karena posisinya sebagai perusahaan milik negara. Yang jadi masalah jika ternyata BUMN itu merugi sementara berbagai pemborosan terus berlangsung.
Berbagai fakta pahit pengelolaan BUMN itu memang menebarkan pesimisme. Apalagi pengungkapan kesemrawutan bukan yang pertama kali. Beberapa kali kejadian pengungkapan pengelolaan amburadul BUMN tak pernah diikuti pembenahan tuntas. Karena itu dibalik harapan besar upaya pembenahan BUMN bertitik tolak kasus Garuda bisa dipahami jika hal sebaliknya yaitu pesimisme juga muncul.
Sebenarnya jika ada itikad baik dan kesungguhan BUMN apapun di negeri ini dapat dikembangkan menjadi perusahaan sehat. Bahkan, BUMN yang bersentuhan langsung dengan pelayanan publik massal terbukti bisa tumbuh sehat dan berkembang mengesankan jika dikelola secara profesional.
Ada contoh menarik tentang BUMN yang pengelolaannya kini mengesankan yaitu PT KAI. Perusahaan transportasi darat ini sebelum dibenahi benar-benar ‘mengerikan.’ Jangan bicara memberikan keuntungan untuk menambah pemasukan APBN. Bahkan, perusahaan itu -sudah jauh dari untung- dalam pengoperasiannya karena pengelolaan amburadul penumpang kereta seakan diperlakukan bagai binatang.
Penumpang kereta dari sejak membeli tiket dibuat susah. Praktek percaloan merajalela. Lalu, ketika berada dalam kereta, terutama kelas ekonomi, kondisi kereta jauh dari kelayakan. Penumpang berdesakan bagai ikan sarden. Pedagang asongan berkeliaran. Benar-benar menjadi perjalanan penuh pertarungan bertebaran derita.
Kereta KRL Jabotabek tak berbeda jauh. Panas menyengat tanpa AC sementara kereta ber AC sering menambah sengsara karena menghentikan kereta non AC. Naik KRL seperti berjuang hidup mati dengan resiko barang hilang, kecopetan dan mendapat perlakuan pelecehan seksual bagi perempuan serta menyabung nyawa bagi mereka yang terpaksa naik di atas gerbong.
Berbagai kesemprawutan managemen terlihat jelas. Ruko yang dibangun di seluruh stasiun tidak jelas pertanggungjawabannya. Mereka yang mengontrak ketika kemudian dibenahi tak bisa menuntut ganti rugi karena hampir seluruh proses kontrak gelap gulita.
Datang Ignatius Jonan. Tangan dinginnya membenahi seluruh armada kereta baik jarak pendek maupun jarak jauh. Penumpang dibuat nyaman dari sejak membeli tiket sampai perjalanan. Seluruh kereta menggunakan AC termasuk kereta ekonomi jarak jauh. Tak ada lagi yang berdesakan. Penumpang dapat duduk dan tidur tenang, kamar kecil bersih dan keamanan meningkat total.
Yang menarik untuk KRL ternyata perbaikan yang luar biasa diikuti oleh penurunan tarif, disamping kemudahan dalam pelayanan pembelian tiket. Hal sangat luar biasa lainya kereta api, baik jarak jauh maupun dekat secara tak langsung mendidik masyarakat berdisplin dan tertib. KRL misalnya, sejak penumpang naik dan terutama turun antri bergiliran sangat tertib. Untuk kereta jarak jauh seluruh stasiun bahkan jauh lebih tertib dalam soal penanganan tiket dibanding bandara.
PT KAI seandainya rugipun masyarakat negeri ini akan tetap memberikan apresiasi. Benar-benar menjadi alat transportasi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. Bahkan menjadi ajang pendidikan kedisiplinan masyarakat negeri ini, yang tergolong masih rendah.
Belajar dari contoh ekstrim KAI, BUMN apapun asal ada keseriusan untuk dikelola profesional dapat berkembang sehat sehingga memberikan kontribusi tak hanya pada pemasukan keuangan negara. Masyarakat luaspun akan dapat menikmati manfaat keberadaan BUMN.
Persoalannya, apakah berani Kementrian BUMN membenahi secara keseluruhan pengelolaan BUMN sehingga dapat dikelola profesional? Bisakah BUMN terbebas dari berbagai belenggu kepentingan? Waktulah yang akan menjawabnya.