SAMPANG, koranmadura.com – Meski mempunyai delapan sumber mata air yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sampang, tidak semua kebutuhan air bersih pelanggannya terpenuhi. Bahkan, ada indikasi hilangnya ribuan meter kubik air bersih.
Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sampang, Alan Kaisan menyampaikan, minimnya distribusi air bersih kepada pelanggan dikarenakan tidak profesionalnya manajemen Badan usaha pelat merah tersebut.
Hal itu menurut Alan terkuak setelah ditelaah dan dilakukan perhitungan antara ketersediaan sumber mata air dan kebutuhan air. Berdasarkan perhitungannya, delapan sumber mata air yang dikelola PDAM selama ini mampu menghasilkan 100 liter per detik. Sehingga dalam 24 jam, sumber mata air tersebut menghasilkan air sekitar 7.096 meter kubik atau sebanyak tujuh juta liter lebih.
“Sesuai aturan yang ada, ketersedian air 7 juta lebih itu harus disisakan sebanyak 20 persen. Maka ketemu angka 5.645 meter kubik yang bisa didistribusiakn kepada masyarakat atau masyarakat,” ujar Alan, merinci, Jumat, 6 Desember 2019.
Lanjut Alan, sedangkan rasio penduduk dalam satu Kecamatan di Kecamatan Sampang mencapai 118.245 jiwa. Kemudian hemat dia, kebutuhan air rata-rata per jiwa dalam seharinya kurang lebih sebanyak 60 liter. Maka kebutuhan air bersih masyarakat Sampang, khususnya di Kecamatan Sampang diketahui mencapai 7.095 meter kubik.
“Sedangkan Jumlah pelanggan PDAM diketahui sebanyak 39.888 jiwa dan kebutuhan airnya jika per harinya sebanyak 60 liter, warga perkotaan dalam seharinya memerlukan sebanyak 2.393 meter kubik. Jadi sebenarnya masih ada sisa sekitar 3.252 meter Kubik yang hilang per harinya. Dan hilangnya entah kemana, misterius. Inilah yang selama ini disebut kebocoran air bersih yang mengakibatkan pelanggan selalu berteriak karena distribusi air bersih selalu macet ke pelanggan,” katanya.
Menurut Ketua Fraksi Gerindra ini, terdapat tiga faktor yang menyebabkan warga sampang di perkotaan selalu mengeluhkan minimnya distribusi air bersih. Pertama karena memang kebocoran pipa.
“Kedua karena meteran yang rusak atau tidak terbaca sempurna atau pendataannya yang amburadul. Dan ketiga ini yang parah yaitu dugaan pencurian dari saluran pipa ilegal. Kalau soal kebocoran pipa sebenarnya bukan menjadi alasan karena air bocor pastinya akan cepat terdeteksi. Sekali lagi, warga Sampang bagian perkotaan sebenarnya telah tercukupi untuk kebutuhan air bersih dari air pengelolaan PDAM,” jelas Alan.
Pihaknya berjanji akan terus mengkoordinasikan masalah ini kepada PDAM dan meminta agar segera mengatasinya. Karena sejauh ini, masyarakat Sampang khususnya pelanggan PDAM di perkotaan banyak yang dirugikan oleh pihak PDAM.
Namun sayang, Dirut PDAM, Achmad Fauzan ketika hendak diminta tanggapannya belum bisa dikonfirmasi. Dihubungi nomor selulernya terdengar tidak aktif. (MUHLIS/ROS/VEM)