SAMPANG, koranmadura.com – Salah seorang mahasiswi asal Desa Rapa Laok, Kecamatan Omben, Sampang, Madura, Jawa Timur, Laili Nadhiftul Fikriya (26) sedang terjebak di China akibat wabah virus Corona.
Kini, anak pertama dari empat bersaudara ini sedang diupayakan pulang oleh Pemkab setempat setelah ibunya, Sri Astutik (43) menemui Bupati Sampang, Selasa, 28 Januari 2020 kemarin.
Bagaimana perjuangan Laili, sapaan akrab Laili Nadhiftul Fikriya, hingga dapat beasiswa kuliah S2 di Shandong University, China?
Ibu Laili, Sri Astutik berceri saat koranmadura.com berkesempatan bertamu ke rumahnya. Astuti mengaku bahwa perjuangan sang anak tidak mudah hingga bisa dapat beasiswa S2. Sebab setelah jadi sarjana Sastra Inggris di Universitas Negeri Jember (UNEJ), putri pertamanya itu bekerja serabutan, mulai jasa rias pengantin, Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Omben hingga bekerja di rumah dengan membuka jasa kursus private online.
“Di rumah, dia bekerja di bidang jasa kursus private via online dengan membuka satu hingga dua kali tatap muka dalam seminggu. Bahkan jasa kursus private itu diminati oleh berbagai kalangan hingga lintas provinsi, seperti Jakarta, Manado, Irian Jaya, Sumatra, Sulawesi dan berbagai daerah lainnya. Sedangkan pengguna jasa kursus private di antaranya seorang pilot penerbangan. Dia juga bekerja di BTPN Syariah di Jember, namun waktu itu ayahnya tidak berkenan sehingga dia berhenti,” katanya, Rabu, 29 Januari 2020.
Sambil menangis, Astutik terus bercerita tentang anaknya. Menurutnya, Laila merupakan sosok yang energik, karena setelah lulus kuliah Laili ingin mandiri. Bahkan saat kuliah S2 Laili sempat mengirim uang.
“Alhamdulillah waktu dia kerja serabutan, dia sempat ngirim uang. Bahkan saat kuliah di China, dia masih mengirim uang senilai Rp 1 juta. Dan empat hari yang lalu, juga ngirim uang sebesar Rp 3 juta dari hasil bonus jasa translate bahasa Inggrisnya. Sempat saya tolak supaya uang itu dipakai di China, karen kebuguhan di sana mahal-mahal. Tapi malah Laili meminta uang itu dipakai untuk uang jajan ketiga adiknya,” ungkapnya.
Lanjut Ibu dari empat anak ini menceritakan, karena tekad bulatnya untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri, ada tiga kampus yang sempat dilamarnya melalui jalur beasiswa, di antaranya di Korea, Autralia, dan China.
“Yang diimpikan Laili kuliah ke Korea, tapi karena beasiswanya tidak full ditanggung sama seperti di Autralia, akhirnya tidak diambil karena tidak ada uang. Malah kampus di China yang tidak diharapkan juga diterima dan menyediakan beasiswa full dari pemerintahan China. Hanya biaya transpor berangkat yang tidak ditanggung. Akhirnya dia berkuliah S2 di China dan berangkat pada Agustus 2019 lalu. Dia sekarang sudah semester dua dan hanya bisa pulang per dua tahun sekali oleh pemerintahan China. Tapi karena ada kasus virus Corona, sekarang dia boleh pulang,” jelasnya.
Kasi Perlindungan Sosial korban Bencana Sosial (PSKBS), Dinas Sosial Kabupaten Sampang, Zainal Fatah mengaku kunjungannya ke rumah mahasiswi S2 Laili di Omben untuk silaturahim dan untuk mengetahui pasti kondisi kehidupan keluarganya. Bahkan pihaknya menyatakan, upaya Pemkab Sampang, untuk rencana pemulangan Laili dari China masih diproses.
“Untuk pemulangan Laili, kami masih koordinasi dengan BP2KAD. Tapi yang jelas Pemkab siap memulangkannya karena ini sifatnya perintah. Begitupula dua mahasiswa lainnya yang juga ada kampus lainnya di Cina yaitu asal Tambelangan dan Sampang kota,” katanya. (Muhlis/SOE/VEM)