JAKARTA, koranmadura.com – Pertengahan Januari 2013 lalu air bah dari luapan Kali Ciliwung merendam pusat kota Jakarta. Saat itu menurut analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah terjadi fenomena Inter-Tropical Convergence Zone (ITCZ) di bagian utara Pulau Jawa.
Fenomena atmosfer ini terulang lagi pada awal Januari 2020. Akibatnya Jakarta dan kota-kota sekitarnya di Jawa Barat serta Banten kembali diterjang banjir setelah diguyur hujan dengan intensitas sangat tinggi.
Bahkan menurut BMKG curah hujan terukur mencapai 377 milimeter (mm) per hari terekam di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Intensitas ini merupakan yang tertinggi sejak adanya pencatatan mulai 154 tahun yang lalu. Pada 2015 lalu curah hujan tertinggi di Jakarta pernah mencapai 367 mm.
Fenomena ITCZ tersebut dipengaruhi oleh penguatan aliran angin dari utara ke selatan. Kepala Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin dalam blognya tdjamaluddin.wordpress.com menjelaskan bahwa angin sesungguhnya adalah fenomena pemindahan massa udara dari daerah tekanan tinggi ke daerah tekanan rendah.
Musim panas di belahan Selatan menyebabkan tekanan udara di kawasan tersebut relatif lebih rendah daripada wilayah musim dingin di belahan Utara. “Maka udara mengalir dari Utara ke Selatan yang kita kenal sebagai angin pasat Asia atau monson udara,” tulis doktor astronomi lulusan Kyoto University itu. (DETIK.com/ROS/DIK)