SAMPANG, koranmadura.com – Akibat menyebarnya virus corona jenis terbaru atau 2019-nCov, di Wuhan, China, upaya evakuasi mulai dilakukan oleh sejumlah negara, tak tekecuali Indonesia yang memiliki warga tinggal di sejumlah daerah di negara tersebut.
“Soal evakuasi itu benar, ada beberapa negara sudah mengevakuasi warganya seperti Jepang. Untuk Indonesia, pemerintah sudah menyiapkan tiga pesawat angakatan Udara dari TNI, cuma sekarang Menlu Indonesia masih proses negosiasi dengan pemerintah China,” ujar mahasiswi Magister 2 (S2) jurusan Hubungan Internasional (International Relations), Shandong University, China, Laili Nadhiftul Fikriya (26), asal Desa Rapa Laok, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang saat dikonfirmasi melalui sambungan WA, Kamis, 30 Januari 2020.
Berdasarkan informasi yang diketahuinya, untuk jumlah mahasiswa Indonesia yang berada di Provinsi Hubei mencapai 200 lebih dan tersebar di 14 kota.
“Jadi tidak mudah melakukan proses evakuasi. Mungkin harus dikumpulkan di titik tertentu untuk kemudian dilakukan evakuasi. Mungkin proses evakuasi akan dilakukan di Hubei khususnya di Wuhan, karena di sanalah pusat penyebaran virus corona itu. Apalagi sekarang 14 kota di Hubei semua akses jalur sudah ditutup mulai akses darat, udara dan laut,” jelasnya.
Disisi lain, Laili menyatakan bahwa, kondisi di China saat ini mulai kekurangan stok masker lantaran ketersediaan masker sudah langka untuk didapatkan.
“Ketersdiaan masker khususnya di Cina sangat langka sekali karena sudah saya alami sendiri. Biasanya pihak universitas itu ngasih gratis bagi mahasiswa yang masih tinggal di Asrama. Cuma sampai sekarang pihak universitas juga kesulitan mendapatkan stok masker. Kemudian untuk stok makanan, ya teman- teman terpaksa masak dengan bahan seadanya karena restoran, mal, toko makanan serta supermarket semuanya tutup,” ceritanya.
Ditanya soal evakuai khusus untuk dirinya, Laili mengaku dirinya merupakan WNI yang tersisa di Kota Qingdao, Provinsi Shangdong. Bahkan dirinya diimbau oleh KBRI Beijing agar WNI yang berada di luar Wuhan dan Hubei agar secepat mungkin pulang ke Indonesia.
“Untuk daerah saya, tidak ada imbauan untuk nunggu proses evakuasi. Malah KBRI Beijing mengimbau agar WNI yang berada di luar Wuhan dan Hubei agar secepat mungking pulang ke Indonesia. Dan alhamdulillah Pemkab Sampang responnya cepat tentang keadaan dan keinginan saya untuk kepulangan. Kemarin saya dapat bantuan dan saya sudah boking tiket mandiri. Sedangkan jadual kepulangan saya sekitar pukul 10.30 waktu Cina, InsyaAllah besok, Jumat, 31 Januari 2020, saya boleh pulang. Sedangkan untuk temen-teman yang dari Madura lainnya khususnya yang di Hubei, saya kurang tahu kapan mereka akan pulang juga,” ungkapnya.
Sekadar diketahui, rencana kepulangan Laili Nadhiftul Fikriya tidak lepas dari usaha Sri Astutik (43), ibunya yang beberapa hari lalu mengadu dan langsung menemui pemerintah daerah Sampang, dengan harapan membantu proses pemulangan anak pertamanya itu.
Kemudian, pihak Pemkab Sampang pun merespon keinginan Ibu Sri Astutik dalam upaya pemulangan anaknya. (MUHLIS/ROS/VEM)