Oleh: MH. Said Abdullah*
Wabah virus Corona di Wuhan, China menjadi keprihatinan masyarakat seluruh dunia. Saat ini sudah sekitar 18 negara dilaporkan ditemukan kasus terjangkit virus Corono. Korban meninggal akibat virus Corona di China telah mencapai 132 orang.
Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan dan pihak terkait telah mengantisipasi pencegahan penyebaran ke Indonesia. Lalu lintas kunjunganpun diambil tindakan preventif melalui penghentian sementara penerbangan dari dan menuju Wuhan dan daerah lainnya di China. Demikian pula kedatangan masyarakat dari luar Indonesia diperiksa intensif di seluruh bandara.
Langkah-langkah antisipasi sebagai tindakan preventif ini memang perlu dilakukan dan segera disosialisasikan ke masyarakat luas. Bagaimanapun sangat disadari seperti virus SARS dan MERS beberapa waktu lalu, penanganan pencegahan mutlak memerlukan peran seluruh masyarakat.
Masyarakat di manapun perlu aktif berperan –paling tidak – untuk diri sendiri dan keluarga. Jika dimungkinkan berperan pula membantu lingkungannya. Kampanye menggunakan masker, mencuci tangan dan tidak berhubungan dengan yang diduga terkena virus Corona merupakan langkah aktif bersifat preventif untuk mencegah penyebaran virus Corona.
Penting pula menjadi catatan agar masyarakat bersikap tenang dan rasional serta tidak mudah mempercayai berbagai informasi yang tersebar melalui media sosial. Contoh paling sederhana tentang cara penggunaan masker, yang ternyata juga ditemukan berkonten hoax, tidak sesuai standar kesehatan. Masyarakat perlu berhati-hati dengan berbagai informasi dari mereka yang sebenarnya jauh dari memiliki kredibilitas dan sumber informasi yang sumbernya tidak jelas.
Media sosial memiliki peran penting dalam proses sosialisasi pencegahan penyebaran virus Corona. Namun, masyarakat diharapkan memiliki sikap kritis, obyektif serta langkah pengecekan karena banyak beredar informasi jauh dari akurat yang tersebar di media sosial. Tak jarang kepanikan muncul karena informasi yang beredar dari media sosial. Kepanikan tanpa dasar rasional jelas sangat kurang baik dan dapat berakibat kurangnya ketepatan dalam penangan pencegahan penyebaran virus Corona.
Upaya menyederhanakan masalah melalui cara-cara membawa-bawa agama munculnya virus Corona perlu disikapi secara cermat. Misalnya yang menyebut virus Corona sebagai hukuman dari Tuhan dapat memunculkan ketakpedulian di tengah masyarakat sehingga kurang aktif dalam upaya pencegahan penyebaran virus.
Para tokoh agama seharusnya memberikan bimbingan rasional tanpa mengabaikan kesadaran dan ketaatan spiritual. Masyarakat diajak melakukan langkah-langkah yang telah disosialisasikan pihak berwenang seperti mencuci tangan, memakai masker dan lainnya. Tentu tak lupa diajak pula berdoa semoga virus Corona tidak menyebar di negeri ini dan negeri lainnya serta masyarakat yang mendapat musibah Corona segera sehat kembali.
Perlu dihindari pandangan menyebut kasus Corona sebagai hukuman Tuhan. Sebab perspektif keagamaan seperti itu menimbulkan kesan seakan Tuhan tergambar penuh amarah. Padahal apa yang terjadi terkait kasus Corona sepenuhnya karena kecerobohan manusia dalam persoalan kehidupan keseharian ketika kurang mampu mengendalikan diri saat memenuhi kebutuhan konsumsi.
Kondisi yang terjadi di China itu bisa terjadi di manapun ketika masyarakat kurang mampu menjaga dan mengendalikan diri dalam memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Ketika masyarakat kurang matang dalam memasak makanan misalnya, potensial menyebarkan virus yang ada dalam tubuh hewan ke dalam tubuh manusia.
Karena itu, dengan tetap berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat perlu berupaya bersama-sama masyarakat dunia lainnya untuk mencegah penyebaran virus Corona. Perlu dihindari sikap sinisme kepada siapapun yang tertimpa musibah terkena virus Corona. Yang perlu dibangkitkan kepedulian, sikap empati dan simpati serta tentu saja, upaya seluruh masyarakat mengikuti berbagai petunjuk pihak berwenang mengantisipasi penyebaran virus Corona.
Ikhtiar keras bersama-sama dan berdoa kepada Tuhan perlu terus dilakukan. Hindari menyebar sikap saling menyalahkan, menyebarkan kebencian apalagi menyebut sebagai hukuman Tuhan. Sekali lagi seperti kata pepatah mari terus Ora et Labora, berupaya dan terus berdoa mencegah penyebaran dan memerangi virus Corona semaksimal mungkin. [*]
*Ketua Banggar DPR RI