SUMENEP, koranmadura.com – Sejak musim hujan mulai, sudah beberapa kali bencana alam terjadi di wilayah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Baik di daratan maupun kepulauan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep mencatat daerah terdampak bencana pada musim penghujan kali ini lebih luas dibandingkan musim lalu.
“Kalau datanya detilnya belum kami rekap. Karena musim penghujan belum selesai,” ujar Kepala BPBD Sumenep, Abd. Rahman Riadi.
Bencana alam yang dimaksud dalam konteks ini ialah bencana hidrometeorologi. Seperti angin puting beliung, banjir, dan longsor. “Cuma kalau longsor hanya di beberapa titik. Tidak terlalu banyak,” tambah dia.
Rahman menjelaskan, salah satu faktor wilayah terdampak bencana pada musim hujan kali ini lebih luas dibanding sebelumnya karena intensitas curah hujan lebih tinggi.
“Tidak hanya di Sumenep, tapi juga di beberapa wilayah di Indonesia. Bahkan di dunia. Ini merupakan dampak perubahan cuaca global,” kata dia, menjelaskan.
Sekadar diketahui, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisikan (BMKG) memprediksi puncak musim hujan masih akan berlangsung hingga bulan depan, Maret 2020.
“Jadi pada umumnya, termasuk di Sumenep, pada musim kali ini puncak musim hujan mulai dari Januari, Februari hingga Maret,” ujar Kepala BMKG Kalianget, Usman Holid.
Selama masa puncak musim hujan, BMKG mengimbau kepada seluruh masyarakat supaya mewaspadai potensi terjadinya cuaca ekstrem. Seperti angin kencang, puting beliung, hujan lebat, termasuk banjir. (FATHOL ALIF/ROS/DIK)