Oleh: MH. Said Abdullah*
Sehebat apapun konsepsi penyelesaian persoalan sosial selalu dihadapkan realitas kontekstual, yaitu kondisi geografis, budaya, adat istiadat termasuk pula persoalan keyakinan keagamaan. Selalu dibutuhkan varian-varian atau modifikasi atas dasar pertimbangan realitas sosial di mana konsepsi itu akan diterapkan. Tidak ada yang baku atau fixed methode sosial apapun karena berhadapan kehidupan manusia yang berbeda-beda.
Atas dasar itulah mengapa pemerintah sekarang tidak sepenuhnya mengadopsi secara utuh dan kaku berbagai konsepsi yang diterapkan di berbagai negara dalam mengatasi persoalan wabah Corona. Sebab, belum tentu yang efektif di sebuah negara, dapat berhasil sama di negara lain.
Tentang konsep lockdown misalnya, di Wuhan dapat berjalan efektif dan optimal karena faktor sistem pemerintahan otoriter sehingga masyarakat dapat dikondisikan secara sangat ketat. Namun, ketika konsep lockdown diterapkan di Italy efektivitasnya jauh dari berhasil bahkan dapat disebut gagal mencermati tingkat penyebaran dan korban meninggal akibat Corona persentasenya sampai melebihi kejadian di Wuhan, Cina.
Pemaparan dan penjelasan Presiden Jokowi bahwa telah memiliki data berbagai cara penanganan Corona di hampir seluruh negara di dunia menegaskan keseriusan pemerintah untuk mengkaji dan berhati-hati dalam menerapkan konsepsi apapun dalam penanganan wabah Corona, di Indonesia. Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, pertimbangan geografis, kedisiplinan, kesiapan aparat keamanan, faktor budaya, termasuk keterikatan keagamaan menjadi pertimbangan pemerintah. Deretan faktor itu sudah dapat memberi gambaran betapa kompleksnya penanganan Corona di negeri ini.
Siapapun masyarakat negeri ini dapat membaca dan mengetahui riak-riak yang muncul ketika MUI, lembaga keagamaan yang merupakan representasi semua Ormas Islam memutuskan agar tidak diselenggarakan sholat Jumat. Reaksi bernuansa keanekaragaman pemahaman dan keterikatan keagamaan serta sosial dalam berbagai persepsi merebak. Demikian pula himbauan pemerintah sejalan MUI ditanggapi berbagai reaksi masyarakat. Sebuah fakta sosial yang kadang dilupakan atau sengaja diabaikan.
Lebih menyedihkan dan memprihatinkan lagi ketika segelintir elite justru memberikan reaksi beruansa kepentingan politik. Memprovokasi masyarakat dan kadang justru mengganggu upaya dan kerja keras pemerintah serta seluruh lapisan masyarakat. Mereka bukannya membantu menggalang kebersamaan atau ikut memberikan pencerahan malah sebaliknya cenderung memperkeruh suasana.
Kebijaksanaan pemerintah sekarang ini dalam penanganan wabah Corona dengan mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat negeri ini, sudah mulai berjalan relatif baik. Namun demikian tetap dibutuhkan kesadaran bersama seluruh masyarakat untuk mentaati langkah-langkah yang telah ditetapkan pemerintah. Seluruh lapisan masyarakat perlu sungguh-sungguh menerapkan disiplin misalnya melaksanakan ketentuan menjaga jarak, tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan mendesak, berusaha hidup sehat yang telah diputuskan pemerintah. Semua demi kepentingan keselamatan masyarakat negeri ini.
Inilah saatnya masyarakat negeri ini mengedepankan kepedulian sosial untuk saling mengingatkan agar disiplin mentaati keputusan pemerintah dalam penanganan wabah Corona. Galang persatuan dan kesatuan serta persaudaraan tanpa melihat perbedaan apapun. Semua energi rakyat negeri ini, dari Presiden sampai rakyat terkecil harus dikerahkan bersama-masa untuk mengatasi wabah Corona.
Kita sebagai bangsa telah berkali-kali menghadapi berbagai tantangan berat dan berhasil mengatasi dengan baik. Semua karena semangat persatuan dan kesatuan serta persaudaraan, sikap saling peduli; mengembangkan watak asli rakyat Indonesia untuk berempati antar sesama warga negara. Kitapun yakin rakyat Indonesia di era sekarang ini akan mampu keluar sebagai pemenang dalam menghadapi wabah Corona. Ayo bersatu untuk melawan wabah Corona demi mewujudkan Indonesia hebat. [*]
*Ketua Banggar DPR RI