SAMPANG, koranmadura.com – Masyarakat di wilayah bagian utara Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur dibuat panik dan resah setelah beredar kabar adanya kunjungan seorang bocah yang diduga alami gejala Covid-19.
Bocah itu bernama NA. Ia yang lahir di Selangor Malaysia menjalani serangkaian kunjungan bersama keluarganya ke Malang dan Dusun Poreh, Kecamatan Karang Penang, Kabupaten Sampang.
Masyarakat pun semakin resah ketika mengetahui kabar bahwa N tetap melanjutkan kunjungan ke keluarganya di Dusun Bliker, Desa Sokobanah Tengah, Kecamatan Sokobanah dalam kondisi demam. Bahkan di Sokobanah, Aini diketahui juga sempat sowan ke salah satu kiai setempat.
Usai berkunjung di dua kecamatan itu, N kemudian pulang ke Malang dan kemudian memeriksakan diri ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, karena alami demam.
“Iya benar mas, kabar itu semakin membuat panik masyarakat di Karang Penang. Karena kita tahu, bocah itu merupakan asal warga Malang, dan kabarnya sakit seperti gejala Corona,” ujar W, warga Karang Penang, Rabu, 25 Maret 2020.
Keresahan itu tampaknya direspon cepat oleh sejumlah anggota DPRD Sampang. Para wakil rakyat langsung berkunjung ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang pada Senin, 23 Maret 2020, kemarin sore untuk memastikannya.
“Kami berangkat ke RS Saiful Anwar Malang, Senin kemarin sore, untuk memastikannya. Dan sesampai di sana, kami mendapat informasi bahwa pasien atas nama Nurul sudah pulang,” ujar Anggota Komisi IV DPRD Sampang, Moh Iqbal Fatoni saat dikonfirmasi melalui sambungan teleponnya.
Karena belum yakin, pihaknya kemudian mendesak dan memaksa mencari informasi lebih dalam di RS Malang. Alhasil, pihaknya kemudian menemukan informasi bahwa pasien yang dirawat di RSSA Malang ada dua orang bernama N, satu pasien bocah bernama N dan satunya lagi pasien mahasiswa juga bernama N.
“Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata N yang pulang adalah mahasiswa, tapi pasien N yang ke Sampang masih dalam perawatan medis serta masih diisolasi. Dan pihak rumah sakit menyatakan tidak positif Corona,” katanya.
Menanggapi kabar itu, Ketua Cluster Bidang Kesehatan Satgas Covid-19 Kabupaten Sampang, Asrul Sani mengaku belum bisa memastikan status bocah itu, sebab hingga saat ini pihaknya masih belum mendapat jawaban resmi dari pihak Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang meski berulang kali mencoba berkoordinasi.
“Sampai hari ini belum ada informasi dari pihak Rumah Sakit di sana. Kami sudah tanya ke teman saya, masih belum ada jawaban. Tapi yang jelas, jika ada pasien positif, maka daerah kontak seperti Sampang ini pasti dihubungi. Sehingga kami pun melacak orang-orang yang kontak langsung dengan bocah itu. Artinya, selama kami (Pemkab) masih belum dihubungi, maka belum ada informasi dia diperiksa positif Covid-19,” tegasnya.
Lanjut Asrul Sani menyampaikan, manakala pasien itu sudah dinyatakan PDP, maka pasien tersebut akan diperiksa lebih jauh seperti pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk memastikan pasien tersebut positif atau negatif Covid-19.
“Sedangkan hasil PCR, baru tiga hari baru keluar. Jadi kami pun menunggu informasi itu. Meski dia diiformasikan PDP, kemungkinan karena masih gejalanya, tapi belum dinyatakan postif. Yang jelas kalau positif harus didasarkan dari hasil uji labnya. Kami berharap masyarakat jangan panik dan jangan menduga-duga sebelum ada hasil labnya, karena penyebaran hoaks itu berbahaya,” jelasnya.
Ditanya penanganan orang Sampang yang kontak dengam bocah itu, pihaknya mengklaim sudah melacak melalui tim survei di masing-masing Puskesmas terhadap orang-orang yang kontak dengan bocah itu.
“Kalau memang bocah itu benar-benar PDP, maka orang-orang yang sudah kontak dengan bocah itu, kami akan awasi dan observasi selama 14 hari ke depan sambil menunggu hasil dari pihak RS Malang mengenai status positif atau tidaknya Covid-19. Tapi kami harus memastikan terlebih dahulu informasi dari pihak RS Malang,” jelasnya. (Muhlis/SOE/DIK)