Oleh: Miqdad Husein
“Dalam kekalutan, masih banyak tangan
Yang tega berbuat nista… oh.”
Yang tega berbuat nista… oh.”
Penggalan irik lagu Ebiet G. Ade berjudul ‘Untuk Kita Renungkan’ itu sangat pas menggambarkan situasi pada sebagian masyarakat negeri ini ketika pemerintah melalui Presiden Jokowi baru saja mengumumkan tentang kasus dua warga Indonesia terinfeksi virus Corona. Ada orang-orang yang mengail di air keruh, memanfaatkan awan duka untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.
Masyarakat yang salah dalam memahami virus Corona begitu mendengar pengumuman Presiden Jokowi bagai air bah berbondong-bondong berusaha membeli masker. Semua tempat penjualan masker penuh dan tak berapa lama kemudian kehabisan. Permintaan tinggi ketersediaan barang belum siap; bukan tidak ada.
Ketika masyarakat panik terdampak epidemi virus yang kemudian diberi nama Covid-19 muncul tangan-tangan mencari keuntungan. Harga masker yang seharusnya hanya sekitar 35 ribu perbox, yang berisi 50 lembar, ditawarkan dengan harga selangit jauh dari jangkauan akal antara 350 ribu sampai 1 juta lebih.
Benar-benar menggambarkan wajah buram nilai kemanusiaan. Memanfaatkan musibah meraup keuntungan bahkan boleh jadi sudah sampai taraf memeras dan menekan masyarakat yang butuh masker karena harga yang sangat keterlaluan.
Yang menyedihkan ketika lembaga milik pemerintah seperti PD Pasar Jaya, Jakarta justru ikut-ikutan memanfaatkan situasi sulit masyarakat dalam mencari masker. Harga masker perbox tanpa bersalah dijual 350 ribu. Menariknya, BUMD milik Pemda Jakarta itu melakukan praktek kotor ketika berbagai kecaman tokoh dan acaman pemerintah pusat terdengar nyaring.
BUMN Kimia Farma sempat melakukan hal sama, menjual masker gila-gilaan. Namun kelakuan buruk berlangsung sejenak setelah Menteri BUMN Erick Thohir mencak-mencak. Langsung Kimia Farma yang memiliki 1300 cabang kembali sebagai institusi bisnis negara, yang melayani rakyat.
Pemda Surabaya patut dipuji langkahnya. Ketika mulai ada tanda-tanda wabah virus Corona segera melakukan langkah antisipasi menyiapkan stok sebanyak-banyak. Pemda memborong dan ‘menimbun’ dalam jumlah besar. Untuk dijual? Bertolak belakang dengan PD Pasar, yang milik Pemda Jakarta, daerah yang memiliki Walikota super gesit Ibu Risma membagikan masker gratis kepada warga yang membutuhkan.
Perilaku jauh dari kepatutan memanfaatkan situasi bencana untuk meraup keuntungan besar baik untuk pribadi pernah pula terjadi dalam kasus personal. Pembangunan pemukiman darurat korban bencana tsunami Aceh misalnya, digerogoti tikus-tikut koruptor. Lalu, di Nusa Tenggara Barat (NTB), Palu, kejadian serupa sempat tercium masyarakat dan aparat hukum. Dan masih banyak lagi kejadian serupa di negeri ini.
Sekalipun berbagai perilaku memalukan itu tidak dapat disebut representasi keseluruhan masyarakat negeri ini tetap saja menimbulkan tanda tanya, begitu parahkah penyakit mental pecundang sehingga dalam situasi masyarakat sedang berduka masih saja sempat berpikir meraup keuntungan gila-gilaan. Memanfaatkan duka nestapa untuk mengisi brankas mereka.
Dalam situasi normal, ketika terjadi arus permintaan lebih banyak dari ketersediaan barang, menaikkan harga beberapa puluh persen masih bisa dipahami. Namun, ketika terjadi musibah, bencana, rasanya terasa menyakitkan mengetahui praktek-praktek kotor itu. Yang seharusnya bahu membahu membantu, saling peduli malah justru berusaha memeras dibungkus praktek berdagang.
Sebagai negara yang masyarakatnya dikenal religius dan ramah, terasa sangat memalukan praktek kotor terjadi. Bertolak belakang dengan apa yang dilakukan masyarakat di beberapa negara lain, yang ketika terjadi musibah berusaha saling membantu.
Tak semua berita menyesakkan dada itu terpapar di tengah kekhawatiran musibah Corona. Langkah Pemda Surabaya yang membagikan masker gratis dan sikap terpuji seorang pedagang masker yang tak mau menaikkan harga serta video bapak-bapak yang bersemangat membagikan masker gratis, seperti menyiramkan embun penyegar kemanusiaan.
Tentu saja, mereka yang berpikir jernih berharap, embun penyegar kemanusiaan itu tak hanya yang terberitakan media. Semoga saja, mereka yang masih memiliki empati dan kebersihan hati itu merupakan sebagian besar masyarakat negeri ini dan yang culas, yang terpapar ke permukaan hanya segelintir saja. Begitulah.