Oleh MH Said Abdullah
“Tidak perlu takut secara berlebihan dengan yang namanya virus Corona. Karena virus Corona dari data yang saya terima 94 persen lebih penderitanya dapat disembuhkan. Untuk itu kita perlu melakukan hal-hal sebagai berikut. Pertama, mencuci tangan dengan air yang mengalir dan sabun.”
Demikian petikan sosialisasi yang disampaikan Presiden Jokowi kepada seluruh masyarakat Indonesia terkait wabah virus Corona. Sebuah pesan tegas dan jelas, yang bernuansa rasional, mengajak masyarakat berpikir jernih tanpa perlu ketakutan berlebihan. Mengajak waspada dengan menjaga kesehatan melalui kebiasaan antara lain mencuci tangan menggunakan sabun.
Presiden Jokowi merasa perlu mengingatkan masyarakat agar tidak takut berlebihan. Sebagai pucuk pimpinan tertinggi di negeri ini Presiden Jokowi agaknya merasakan pemberitaan tentang virus Corona ternyata menimbulkan kehebohan luar biasa sehingga masyarakat bukannya bersikap waspada tetapi justru terperangkap ketakutan berlebihan sehingga kehilangan pikiran jernih.
Ketika ketakutan berlebihan mengemuka yang muncul adalah perilaku jauh dari rasional serta tidak proporsional. Contoh paling sederhana masyarakat luas bersikeras menggunakan masker. Padahal virus Corona yang kini diberi nama Covid-19 penyebarannya tidak lewat udara melainkan melalui kontak langsung dan tidak langsung dengan yang terinfeksi. Penggunaan masker tidak diperlukan bagi masyarakat yang sehat. Yang perlu menggunakan masker mereka yang terindikasi terinfeksi atau sedang sakit flu, batuk agar ketika bersin misalnya tidak menyebarkan virus kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Perilaku irrasional akibat ketakutan berlebihan terjadi ketika masyarakat mengalami panic buying, membeli kebutuhan barang sehari-hari berlebihan seakan-akan terjadi perang. Suasana panic buying ini sempat terjadi di Jakarta. Maklum saja, Gubernur Jakarta Anies Baswedan tidak mampu berkomunikasi menyejukkan dengan menyebut kondisi Jakarta genting. Beruntung kepanikan sebagian warga tidak terjadi di daerah lain karena kepala daerahnya memiliki jiwa kepemimpinan yang mampu menenangkan rakyatnya.
Sosialisasi mengajak masyarakat berpikir rasional dan cerdas tanpa kehilangan kewaspadaan dari Presiden Jokowi yang kini disebarkan secara massif juga bertujuan memberikan penjelasan berimbang menghadapi beberapa media, yang cenderung mendramatisir. Presiden Jokowi sengaja secara tegas meluruskan pemberitaan beberapa media yang terkesan bernuansa menyebar ketakutan.
Masyarakat Indonesia pernah menyaksikan stasiun televisi TVone yang ketika menyampaikan berita tentang virus Corona reporternya menggunakan sejenis alat pelindung respiratory protective equipment (RPE) yang biasanya dipakai jika berada di areal gas beracun. Penampilan reporter TvOne itu, bukan hanya memperlihatkan perilaku pembodohan namun ada nuansa kesengajaan mendramatisir suasana kejiwaan masyarakat. Jangankan alat untuk menghadapi gas beracun, masker saja tidak diperlukan menghadapi virus Corona bagi mereka yang sehat.
Pemberitaan media yang tidak mencerdaskan dan cenderung pembodohan serta diduga bernuansa menciptakan kepanikan sosial itu sudah selayaknya mendapat tegoran keras dari Komisi Penyiaran Indonesia. Apa yang diperlihatkan dalam penyiaran TvOne dengan menggunakan mirif RPE itu bukan hanya berlebihan bahkan cenderung mengembangkan teror ketakutan kepada masyarakat.
Media apapun seharusnya memberikan informasi obyektif tanpa nuansa menciptakan ketakutan. Memaparkan data-data riil dan bukan menyebarkan opini, yang sama sekali tidak memiliki kaitan dengan persoalan.
Media dalam kasus virus Corona seharusnya memberikan petunjuk praktis bagaimana menangkal penyebarannya. Demikian pula bagaimana agar tak mudah terinfeksi. Masyarakat dengan demikian akan berperilaku efektif dalam menangkal serta tidak dihinggapi ketakutan berlebihan.
Jangan lupa ketika seseorang sedang mengalami ketakutan berlebihan mudah sekali terjadi penurunan daya tahan tubuh. Kondisi ini jelas justru mempermudah seseorang terinfeksi apapun, tidak hanya virus Corona.
Yang ironis media seperti melupakan persoalan deman berdarah (DBD) karena terlalu sibuk memberitakan kasus Corona. Padahal akibat DBD korban yang meninggal tahun 2020 sampai maret sudah mencapai 104 orang.
Menurut dr Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan zoonotik mengatakan kasus DBD di Indonesia dari Januari hingga Maret mencapai 17.820. Jauh lebih tinggi dibandingkan kasus Corona.
Media termasuk media sosial perlu mengembangkan pemberitaan yang mengedukasi, memaparkan data obyektif sehingga masyarakat dapat bersikap rasional dan proporsional.
Terus waspada disertai sikap rasional dan proporsional. Menjaga kesehatan dengan selalu berusaha hidup sehat.