SAMPANG, koranmadura.com – Pemerintah Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, sepertinya harus lebih ekstra waspada menyikapi penyebaran wabah virus Corona. Pasalnya jumlah Orang Dalam Risiko (ODR) dan Orang Dalam Pamantauan (ODP) Covid-19 semakin hari terus bertambah.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang, menyatakan per tanggal 19 Maret 2020, ODR sebanyak 448 orang dan ODP sebanyak 7 orang. Kemudian, per tanggal 21 Maret, ODR meningkat menjadi 652 dan ODP 10 orang.
Humas Satgas Covid-19 Pemkab Sampang, Djuwardi menyatakan, penanggulangan dan pencegahan terus dilakukann oleh tim Satgas Covid-19. Menurutnya, hingga per 23 Maret 2020, pada pukul 13.00 WIB, data sebaran penanggulangan dan penanganan wabah pandemik Corona di 14 kecamatan Sampang diketahui sebanyak 704 ODR dan 18 ODP.
“Kami sudah lakukan pencegahan terhadap penyebaran wabah virus pandemik ini. Kami juga sudah melakukan segala sosialisasi dan penyemprotan cairan disinfektan di segala tempat,” ucap Djuwardi kepada koranmadura.com, Senin, 23 Maret 2020.
Penyemprotan disinfektan, Djuwardi mengaku sudah dilakukan beberapa hari yang lalu di berbagai tempat keramaian dan strategis. Untuk tempat perkantoran, menurutnya dilakukan penyemprotan di kantor pelayanan seperti RSUD, Dispendukcapil, Perizinan, dan kantor pelayanan lainnya.
“Kemudian juga di tempat keramaian seperti pasar dan tempat terhimpunnya orang banyak. Penyemprotan ini tidak ada batasannya karena akan dilakukan berkelanjutan,” terangnya.
Ketua Satgas Covid-19 Sampang, Asrus Sani saat dikonfirmasi mebenarkan bahwa sebaran ODR dan ODP di wilayahnya mengalami peningkatan setiap harinya. Menurutnya, tercatatnya masyarakat ke dalam status ODR karena memiliki riwayat pernah menempuh perjalanan ke luar Sampang, terlebih ke daerah endemik Covid-19 seperti Jakarta, Surabaya, Malang dan daerah lainnya.
“Sebenarnya kondisi ODR ini, orangnya sehat. Hanya orang ini pernah melakukan perjalanan atau pernah tinggal di daerah endemik. Sedangkan ODP ini, orang tersebut mengalami gejala sakit, seperti batuk, pilek dan semacamnya. Sehingga orang itu dalam pemantauan, sehingga orang itu diharapkan wajib melakukan isolasi mandiri seperti tidak keluar rumah selama 14 hari untuk memastikan perkembangan kesehatannya, apakah orang itu tepapar Covid-19 atau tidak. Jika ada sesak napasnya agak berat, kami rujuk ke RSUD untuk dilakukan uji klinis dan rontgen,” jelasnya.
Di sisi lain, meningkatnya sebaran ODR dan ODP diklaim tidak lepas dari faktor banyak orang yang telah terjaring pemeriksaan kesehatan di wilayahnya. Kemudian, faktor iklim juga menjadi pengaruh. Sehingga kondisi kesehatan masyarakat juga rentan terhadap adanya gejala sakit.
“Makanya kami juga sarankan kepada masyarakat untuk benar-benar menjaga kesehatan dan kalau perlu minum vitamin. kami juga imbau kepada masyarakat agar selalu jaga pola hidup sehat dan selalu cuci tangan dengan sabun dan menggunakam hand sanitizer. Penularan penyebaran Covid-19 akan mudah kalau kita tidak melakukan Social Distancing (jaga jarak) paling tidak satu meter dan kemudian memeriksakan diri, jika itu memang terpaksa menghadiri perkumpulan,” jelasnya. (Muhlis/SOE/DIK)