SAMPANG, koranmadura.com – Sebanyak 752 santri Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur, asal Sampang yang pulang kampung harus diperiksa suhu dan kesehatan tubuhnya oleh Tim Satgas Perecepatan dan penanggulangan Covid-19 di Posko Kabupaten setempat.
Pengurus Ikatan Alumni Sidogiri (IAS) Kabupaten Sampang, Ainul Yaqin menyampaikan, rombongan santri Sidogiri yang hendak pulang kampung yaitu sebanyak 752 santri dengan menaiki total 15 bus. Dari belasan bus itu terbagi dua rute, tiga bus melewati rute jalur pantura yakni di wilayah Kecamatan Banyuates, Ketapang dan Sokobanah. Sedangkan 12 bus melewati rute Sampang Kota.
Menurut dia, sebelum berangkat menuju Sampang, pihak mengaku telah berkoordinasi dengan tim satgas Covid-19 Kabupaten setempat agar nantinya dilakukan pengecekan kesehatan untuk memastikan ratusan santri yang dokoordinir olehnya terbebas dari penularan wabah Covid-19.
“Sebelumnya, kami bersama teman-teman alumni Sidogiri sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan tim Satgas Covid-19 Sampang untuk penjemputan santri agar nantinya dapat dicek kesehatan di posko Covid-19. Sedangkan tiga bus yang melewati rute pantura, juga dicek kesehatannya oleh tim satgas yang di Kecamatan, karena di sana (pantura) juga disiapkan pemeriksaan kesehatan oleh tim satgas,” terangnya, Kamis, 2 April 2020.
Sementara Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Bencana non Alam dan Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sampang, Yuliadi Setiawan mengucapkan banyak terimakasih kepada koordintor santri Sidogiri karena mengarahkan para santri Sampang yang mondok di Sidogiri untuk mendatangi posko Covid-19 guna dilakukan pemeriksaan kesehatan. Menurutnya, dari hasil pemeriksaan sementara sejumlah santri ada yang suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius.
“Terakhir yang kami ikuti, itu ada enam santri yang suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius. Dan seketika itu juga, kami observasi ke Puskesmas terdekat,” katanya.
Namun demikian, Pj Sekda ini mengatakan, sejumlah santri yang suhu tubuhnya mencapai 38 derajat, kondisi kesehatannya tidak disertai dan diikuti gejala sakit seperti batuk, demam dan sesak. Kondisi itu menurutnya bisa disebabkan beberapa faktor di antaranya kelelahan dalam perjalanan.
“Kami lakukan pemeriksaan medis sederhana dulu. Kalau nanti rekomendasinya harus isolasi mandiri di rumah masing-masing, maka kami akan sarankan isolasi mandiri. Tapi tentunya dengan pemantauan dan pengawasan oleh masing-masing puskesmas agar diketahui perkembangan kondisi kesehatannya. Nah memang ada sejumlah santri yang kondisi suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius, tapi ketika saya tanyakan ke dokter tadi, kemungkinan karena kecapean saja karena tidak diikuti batuk, pilek dan sesak,” jelasnya. (MUHLIS/ROS/VEM)