KORANMADURA.com – Masker menjadi satu perlengkapan penting selama masa pandemi COVID-19. Bagi tenaga medis, masker bahkan tidak boleh lepas dari wajah saat bertugas.
Masker harus menempel di wajah bagi pemakai, untuk perlindungan maksimal, masker harus ditutup rapat di sekitar hidung.
Namun, dalam lingkungan yang serba cepat dan penuh tekanan, masker yang menempel pada wajah dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan terjadinya kerusakan kulit. Hal ini ditemukan dalam sebuah makalah anyar di Inggris.
“Para pemakai akan berkeringat di balik masker. Hal ini menyebabkan gesekan yang bisa memicu kerusakan pada hidung dan pipi. Lebih jauh, kondisi ini dapat meningkatkan risiko infeksi,” ujar salah satu penulis studi, Karen Ousey dari University of Huddersfields, Inggris, dilansir dari Medical News Today.
Makalah yang diterbitkan dalam Journal of Wound Care pada Februari lalu, berfokus pada masalah kulit yang bisa disebabkan oleh penggunaan masker dan alat pelindung diri (APD) lainnya yang digunakan di bagian wajah.
Salah satunya adalah meningkatnya risiko ulkus dekubitus. Nama terakhir merupakan kondisi luka yang disebabkan oleh tekanan secara terus menerus pada permukaan kulit.
Ulkus, sebut para peneliti, dapat meningkatkan risiko infeksi seperti sepsis. Ulkus juga menimbulkan rasa sakit, meninggalkan bekas luka, dan mengakibatkan kerontokan rambut permanen.
Ousey menyarankan, agar para pemakai masker, khususnya tenaga medis, untuk membuat kulit tetap terhidrasi dan menjaga kelembabannya. Gunakan krim pelembab setidaknya 30 menit sebelum menggunakan masker. (DETIK.com/ROS/VEM)