SAMPANG, koranmadura.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menginstruksikan kepada seluruh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nhadlatul Ulama (PCNU), Pengurus Lembaga dan Badan Otonom (Banom) untuk membentuk Posko NU Peduli Covid-19.
Intruksi itu sebagai bentuk ikhtiar NU dalam mencegah penyebaran Corona yang sudah menjadi bencana nasional.
Intruksi pembuatan posko itu, tertuang dalam Surat Nomor 3945/C.I.34.03/2020, dan ditujukan kepada seluruh pengurus Wilayah, Cabang serta lembaga dan Banom NU.
“Iya benar mas, kami diintruksikan oleh PBNU agar mendirikan Posko NU Peduli Covid-19. Semua pengurus di lingkungan NU se-Indonesia agar membentuk tim satgas dan posko,” ujar Mas Udi Kholili selaku penanggung jawab Posko NU Peduli Covid-19 PCNU Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, Kamis, 2 April 2020.
Lanjut Maok, sapaan akrab Mas Udi Kholili menyampaikan, Posko NU Peduli Covid-19 di tempatkan di kantor PCNU Sampang, jalan P. Diponegoro, Kelurahan Banyuanyar. Pendirian posko dijelaskannya sebagai upaya melengkapi keberadaan posko Covid-19 yang didirikan oleh pemerintah daerah Sampang yang ditempatkan di jalan Wijaya Kusuma dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyebaran wabah mematikan itu di wilayah Kabupaten Sampang.
“Kami ingin melengkapi dari beberapa kegiatan yang dilakukan posko Covid-19 Sampang karena untuk mengantisipasi ada yang lolos dalam deteksi dini. Kami di sini hanya untuk membantu Pemkab agar deteksi dini penanganan virus ini maksimal. Nanti kami terapkan sistem survei ke bawah karena kami sudah mengintruksikan ke teman-teman MWC hingga Ranting agar juga mendirikan posko. Bahkan teman-teman di bawah, sebelum ada intruksi pun sudah bekerjasama dengan tim Covid-19 Sampang,” bebernya.
Disisi lain pihaknya menyampaikan, pembentukan satgas dan pendirian posko peduli NU guna memastikan keamanan para pemudik, baik TKI maupun pemudik dari daerah endemik di luar Sampang. Selain itu, pihaknya menyampaikan akan terus berkoordinasi dengan tim Covid-19 Sampang dalam proses pendataannya agar tidak saling tumpang tindih.
“Sasaran kami nantinya TKI maupun pemudik yang datang dari daerah endemik. Pemudik itu bisa para santri yang mondok dari luar Sampang. Mungkin para pemudik ini lolos pemantauan dari Satgas Pemkab maka kami lah yang akan melengkapi penagawasannya. Karena menghadapi wabah virus ini sudah menjadi tanggungan bersama,” katanya.
Disinggung soal Alat Pelindung Diri (APD), pihaknya mengaku sementara memakai APD sesuai dengan protokol yakni menyediakan sabun cuci, hand sanitizer, dan alat semprot disinfektan.
“Memang untuk alat pendeteksi suhu tubuh kami belum ada. Tapi kami gunakan sistem konseling kepada pemudik yakni menanyakan rute perjalanan dan keluhan kesehatan sebagai upaya pendeteksian dini. Semisal nanti alami keluhan gejala sakit, nanti kami arahkan ke posko Covid-19 Pemkab karena APD dan SDA di sana lebih memadai, jadi kami hanya sebatas menjadi penghubung. Nanti kami antarkan menggunakan alat transportasi yang disediakan kami. Kalau posko di tingkat kecamatan nanti juga langsung diarahkan ke Puskesmas di daerah masing-masing,” katanya. (Muhlis/SOE/DIK)