BANGKALAN, koranmadura.com – Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur mencatat, per tanggal 24 April 2020, setidaknya ada delapan warga di Kota Salak yang terkonfirmasi positif virus Corona melalui hasil polymerase chain reaction (PCR) alias swab tenggorokan dari Balitbangkes, Jakarta.
Delapan orang itu tersebar di beberapa kecamatan di kabupaten paling barat di pulau Madura. Di antaranya bapak berinisial R, warga asal Kecamatan Blega; pasutri Z dan AT, warga asal Kecamatan Klampis; TR, warga asal Kecamatan Bangkala Kota; S, NI, dan K, sama-sama berasal dari Kecamatan Kamal; dan terakhir EH, warga asal Kecamatan Arosbaya.
Melihat dari jejak bepergiannya, mereka memiliki riwayat yang berbedan beda. Sementara interaksinya, mereka pernah kontak langsung dengan orang yang baru pulang dari daerah luar.
Mengawali riwayat bepergian dari pasien R, warga asal Kacamatan Blega. Ternyata, ia baru pulang dari DKI Jakarta menggunakan mobil pribadi. Diketahui, Jakarta merupakan daerah tertinggi kasus Covid di Indonesia.
“Pasien dalam pengawasan Puskesmas Blega, dan ia baru mudik dari DKI Jakarta, sehingga dilakukan tes lab,” kata ketua Gugus Tugas Covid-19 Bangkalan, Abdul Latif Amin Imron, Jumat 10 April 2020 lalu.
Sesampainya di kampung halaman, pasien ini mengalami keluhan sakit dan terpaksa dibawa ke Puskesmas Blega. Karena memiliki riwayat bepergian dari daerah terpapar, maka dicoba lakukan rapid tes di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkalan. Pada saat itu juga, ia diketahui positif Corona.
Namun, karena alat itu hanya sebagai pendeteksi awal. Maka langsung diambil swab tenggorokan, untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Laboratorium Surabaya. Hasilnya pun positif.
Selanjutnya, untuk meyakinkan hasil itu, maka swab tenggorokan itu dikirim ke Balitbangkes, Jakarta. Hasilnya sama, tetap positif.
Baca: Warga Asal Blega Bangkalan Ternyata Tetap Positif Corona Meski Tiga Kali Tes Lab
Setelah dilakukan perawatan terbaik di RSUD Bangkalan, pasien tersebut sempat dinyatakan sembuh dan negatif virus Corona. Namun tak ada yang menyangka, sebelum sampai 24 jam, ia menghembuskan nafas terakhir.
Baca: Warga Blega yang Meninggal Ternyata Memiliki Penyakit Bawaan sebelum Terpapar Corona
Sedangkan, pasien pasutri Z dan AT diketahui menjadi Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) dan mengikuti pelatihan di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. Keduanya tidak memiliki gejala apapun. Namun, karena dalam satu ruangan pelatihan ada yang terkonfirmasi positif. Maka keduanya dilakukan rapid tes di RSUD Bangkalan. Hasilnya positif.
Baca: Suami Istri yang Positif Corona di Bangkalan Ternyata Tenaga Medis
Selanjutnya, dilakukan pengambilan PCR dan dikirim ke laboratoriun Surabaya dan Balitbangkes, Jakarta. Hasilnya sama, yakni positif Corona.
“Yang positif itu tenaga medis, ikut pelatihan TKHI di Surabaya,” kata Humas Gugus Tugas Covid-19 Bangkalan, Agus Sugianto Zein, Jumat 10 April 2020.
Kedua pasien itu pun sempat membuka praktek di rumahnya sendiri, di RSUD Bangkalan dan RS Lukas setempat. Bahkan, pasutri itu masih saja keluyuran. Padahal ketika sudah positif dari hasil rapid tes harus melakukan isolasi. Baik mandiri yang tidak memiliki gejala atau di rumah sakit yang mengalami keluhan.
“Yang bersangkutan juga membuka praktek mandiri di rumahnya serta juga bekerja di Rumah Sakit Lukas Bangkalan,” kata Agus.
Sehingga atas ketidak kooperatifnya pasien Pasutri itu, setidaknya ada 225 orang yang pernah melakukan kontak langsung. Termasuk salah satu tenaga medis RSUD Bangkalan dan anaknya sendiri terkena imbasnya yakni dinyatakan positif dari hasil rapid tes.
Baca: Dua Warga Bangkalan Ikut Terpapar Virus Corona, Ternyata ini Penyebabnya
Dilanjutkan pasien asal Kecamatan Bangkalan atas inisial TR, usia 20 tahun. Ia memiliki riwayat bekerja di Surabaya. Setiap hari bolak balik Bangkalan-Kota Pahlawan.
Namun, karena mengalami keluhan sakit, maka ia pulang ke rumah keluarganya sendiri di Kecamatan Socah dan selanjutnya melakukan pemeriksaan di Puskesmas setempat.
“Pasien pulang ke desa asalnya di Kecamatan Socah dan menjalani rawat inap di Puskesmas Socah selama 2 (dua) hari,” kata Agus, sapaan akrabnya, Senin, 13 April 2020.
Karena tidak ada perkembangan, maka ia mencoba melakukan pemeriksaan ke salah satu dokter di Bangkalan. Karena diagnosa tuberculosis, maka disaranka agar dirujuk ke rumah sakit agar mendapatakan penanganan yang lebih baik.
Sesampainya di RSUD Bangkalan, ia disarankan agar melakukan rawat inap. Namun sayangnya ia menolak dan meminta pulang. Jadi, karena memaksa maka pihak rumah sakit membolehkan pulang.
“Datang ke UGD RSUD, setelah menjalani pemeriksaan selama kurang lebih 3 jam pasien minta pulang paksa sebelum masuk kamar rawat inap,” tutur Agus.
Beberapa hari kemudian, keadaan si TR semakin parah. Maka pihak keluarga membawanya ke rumah sakit Menur, di Surabaya untuk menjalani pemeriksaan.
“Pada tanggal 3 April 2020 pasien diantar ke RS Menur Surabaya oleh keluarga, karena menganggap pasien mengalami depresi,” ucap Agus.
Setelah dinyataka positif Corona, maka pasien tersebut dilakukan isolasi di Rumah Rakit Menur Surabaya.
Baca: Pasien Positif Corona di Bangkalan Ternyata Alami Sakit Sejak 23 Hari Lalu
Sementara pasien yang berasal dari kecamatan Kamal ada tiga orang. Dikethaui pasien atas inisial S baru pulang dari pelayaran.
“Pasien terjangkit virus Corona itu pulang dari pelayaran,” kata Juru bicara (Jubir) Gugus Tugas Covid-19 Bangkalan, dr. Catur Budi Keswardiono, Sabtu 18 April 2020.
Pasien tersebut juga melakukan pengobatan secara mandiri ke salah satu rumah sakit di Surabaya. Namun, setelah diketahui terkonfirmasi positif Corona, maka yang bersangkutan langsung dijemput ke rumahnya.
Baca: Ternyata Pasien Asal Kamal yang Terkonfimasi Positif Corona Baru Pulang dari Pelayaran
Sedangkan ibu pasien atas inisial K terpapar virus Corona karena diduga melakukan kontak langsung dengan anaknya yang baru pulang dari pelayaran.
“Anaknya pelayaran, pulang ke rumahnya. Bis jadi terpapar oleh anaknya yang baru pulang pelayaran,” kata Kadinkes Bangkalan, Sudiyo.
Pasien ini bukan dalam pengawasan dari RSUD Bangkalan, melainkan ia melakukan pengobatan mandiri di rumah sakit dr. Soetomo Surabaya.
Baca: Pasien Asal Kamal yang Positif Corona Dirawat di RS Dr. Soetomo, 14 Orang Kontak Langsung Negatif
Sedangkan pasien NI (43) ini juga pernah kontak langsung dengan suaminya yang bekerja sebagai pelayaran. Kedua pasangan suami istri itu bertemu di Surabaya saat sang suami transit.
Setelah pertemuan itu terjadi, NI mengalami keluhan sakit mual hingga batuk, selanjutnya yang bersangkutan dilarikan ke Puskesmas setempat. Lalu ia berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP)
“Riwayat kontak dengan suami pelayaran saat transit Surabaya. Status yang bersangkutan adalah ODP, karena keluhan mual, nyeri perut, panas dan batuk,” kata Agus, Jumat 24 April 2020.
Yang bersangkutan diketahui terkonfirmasi positif Corona berdasarkan hasil swab tenggorokan dari Balitbangkers, Jakarta. Sehingga tim RSUD Bangkalan menjemput pasien tersebut di rumahnya.
Baca: Warga Kecamatan Kamal dan Arosbaya Bangkalan Terkonfirmasi Positif Corona, Ini Riwayat Bepergiannya
Sedangkan yang terakhir yaitu inisial EH, pasien asal Kecamatan Arosbaya. Pria berusia 33 tahun ini juga baru pulang dari pelayaran.
“Inisial AE, laki-laki, umur 33 tahun, seorang pelayaran asal Arosbaya. Dia tiba di Indonesia tanggal 17 Maret 2020,” kata Agus.
Karena memiliki keluhan sakit, maka EH melakukan pemeriksaan dan dirawat di RSUD Bangkalan. Dia diketahui terkonfirmasi postif Corona setelah hasil swab tenggorokannya keluar dari Balitbangkes Jakarta.
“Sejauh ini belum ada kasus Corona yang bersumber dari Bangkalan sendiri, semuanya dari luar daerah sini,” kata Kadinkes, Sudiyo. (MAHMUD/SOE/VEM)