SAMPANG, koranmadura.com – Membludaknya pemudik di tengah penyebaran pademi Corona Virus Disease 19 (Covid-19), Tim Satgas percepatan dan penanggulangan Covid-19 Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, menjaring hingga 10 ribu lebih warga atau Orang Dalam Resiko (ODR) dan ratusan Orang Dalam Pemantauan (ODP) di wilayahnya.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, Agus Mulyadi menjelaskan, 10 ribu orang yang menjadi ODP setelah dilakukan tes menggunakan alat medis baru yang dimiliki setelah mendapat bantuan sebanyak 60 unit dari Provinsi Jatim.
“Warga terjaring yang lama (sebelum dapat bantuan), kami tidak melakukan rapid tes. Tapi untuk yang baru dan ke depannya akan kami lakukan rapid tes,” ujarnya, Sabtu, 11 April 2020.
Disinggung cara penanganan warga yang sudah terjaring sebelum tersedianya alat medis rapid tes, Agus sapaan Agus Mulyadi menegaskan tetap melakukan penanganan sesuai protap yang ada. Data-data yang sudah terjaring menurutnya akan diberikan kepada seluruh Puskesmas yang ada di seluruh Kabupaten Sampang, agar dari pihak puskesmas kemudian ditindak lanjuti ke masing-masing pasien tersebut supaya dilakukan pemantaun selama 14 hari.
“Kalau yang lama tidak (rapid tes), kita pantau dan isolasi mandiri saja selama 14 hari. Kalau sudah melewati masa inkubasi itu dan kondisinya sehat, kita anggap bukan Covid-19. Bahkan yang ODP, itu hanya diisolasi selama 14 hari tanpa kami lakukan rapid tes. Tapi untuk ke depannya, kita lihat dulu, kalau sudah dicurigai dan diduga, maka kami akan lakukan rapid tes,” katanya.
Namun begitu, setelah mendapat bantuan alat medis rapid tes, pihaknya mengaku telah melakukan rapid tes terhadap warganya kurang lebih sebanyak 10 orang.
“Perkiraan 10 orang, karena ketersediaan alatnya terbatas. Tapi nanti jika sudah banyak, maka kami akan perluas. Memang persoalan ini menjadi perhatian kami, karena rapid tes itu sebagai alat screening, bukan alat diagnotis,” jelasnya.
Ditanya apakah perlu adanya ketersediaan rapid tes di posko-posko yang sudah didirikan, Agus mengaku tidak semuanya harus menggunakan rapid tes. Hal itu karena menurutnya, rapid tes akan efektif ketika sudah hari ketujuh hingga kedelapan dalam masa inkubasi Covid-19.
“Awal screening itu, melalaui keluhan dengan menggali informasi, kemudian juga melalui thermoscan. Jika sudah ada tanda-tanda baru dicurigai. Tapi jika tidak ada tanda-tanda ya lolos, dan tidak perlu dirapid tes,” terangnya.
Lebih jauh Agus menerangkan, penggunaan rapid tes yaitu untuk mendeteksi pembentukan antibodi di tubuh seseorang melalui pengambilan sampel darahnya terhadap keberadaan serangan bakteri maupun virus. Sedangkan antibodi sendiri akan terbentuk kurang lebih pada hari ketujuh dan kedelapan di masa inkubasi covid-19.
“Sehingga waktu itu lah yang paling efektif. Jadi kami tegaskan, penggunaan rapid tes akan dilihat telebih dahulu sasarannya, karena kalau tidak dalam waktu efektif, kan jadi percuma dilakukan rapid tes, apalagi bahannya terbatas dan belinya juga susah. Kalau mau beli sekarang itu harus inden. Untuk biaya rapid tes sendiri, kami tidak tahu berapa, tapi kalau biaya swab PCR itu Rp 1,5-2 juta sekali diagnosa, itu pun di Surabaya. Tapi kalau cek rapid tes di kami itu gratis,” Jelasnya.
Sekadar diketahui, sebaran penanggulangan dan penanganan Covid-19 di Kabupaten Sampang berdasarkan laman resmi https://sampangkab.go.id/covid-19/, hingga per 11 April 2020, yaitu diketahui ODR 10.125 orang, ODP 281 orang, PDP dan positif 0 orang. (MUHLIS/ROS)