SUMENEP, koranmadura.com – Selain Pak Guru Avan, salah seorang guru SDN Batuputih Laok, Kecamatan Batuputih, di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, juga ada beberapa guru yang keliling mengunjungi rumah-rumah muridnya menyampaikan mata pelajaran.
Baca: Pak Guru Avan di Sumenep Sehari Kunjungi 9 hingga 11 Rumah Murid-muridnya
“Ternyata di Sumenep ini ada juga beberapa guru yang ‘jemput bola’ mendatangi murid-muridnya karena memang tidak memungkinkan untuk belajar melalui sistem dalam jaringan (daring),” ujar Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep, Carto.
Beberapa guru yang juga mendatangi rumah-rumah muridnya, menurut mantan Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep itu, di antaranya ada di Kecamatan Saronggi dan Pragaan.
“Cuma mungkin sejauh ini yang kebetulan banyak terekspose adalah Mas Avan, karena kebetulan muridnya juga sedikit,” tambah Carto.
Baca: Apresiasi Pak Guru Avan, Wabup Fauzi Bantu Biaya Transportasi dari Kantong Pribadi
Kisah Pak Guru Avan atau Avan Fathurrahman mendatangi rumah-rumah muridnya karena keterbatasan sarana untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring atau melalui media perpesanan menjadi viral beberapa hari terakhir.
Pertama kali ini bercerita mengenai pengalamannya itu di akun facebooknya, Avan Fathurrahman, pada 16 April 2020 lalu. Per hari ini, Rabu, 22 April 2020, kisahnya itu telah dibagikan 12 ribu kali, dikomentari enam ribu lebih, dan disukasi oleh lebih 28 ribu nitizen.
Menurut dia, kisahnya berawal dari adanya kebijakan pemerintah agar kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah masing-masing sebagai bagian dari upaya mengantisipasi meluasnya penyebaran virus korona atau Covid-19.
Pertama kebijakan itu diberlakukan, Pak Guru Avan belum memiliki inisiatif untuk keliling ke rumah-rumah muridnya untuk mengajar. Ia mengira kebijakan tersebut tak akan berlangsung lama.
Namun ternyata, kebijakan tersebut terus diperpanjang karena pandimi masih terus menerjang. Hal itulah yang kemudian membuat dirinya mencari cara agar kegiatan belajar mengajar terus berlangsung.
Awalnya dia mencoba menghubungi nomor telefon orangtua murid-muridnya untuk menyampaikan pelajaran. Namun tak berlangsung mulus. “Karena rata-rata orangtua mereka kerjanya di sawah. Sehingga tidak efektif,” tuturnya.
Karena tak bisa menggunakan cara seperti itu, Pak Guru Avan kemudian berinisiatif mengirim mata pelajaran yang ingin disampaikan melalui aplikasi perpesanan dengan cara difoto. Namun lagi-lagi cara ini tak bisa diterapkan. Sebagian besar orangtua muridnya tidak memiliki telefon pintar (gawai). “Hanya punya HP tapi bukan smartphone. Bingung lagi jadinya saya,” tambah dia.
Melihat kondisi yang seperti itu, akhirnya Pak Guru Avan memutuskan untuk keliling ke rumah-rumah muridnya menyampaikan mata pelajaran. “Di lapangan memeng benar, mereka tidak memiliki smartphone,” tuturnya. (FATHOL ALIF/ROS/DIK)