SAMPANG, koranmadura.com – Berdasarkan peta sebaran Covid-19, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, masih ‘perawan’ dari virus Corona. Namun, status zona hijau tersebut diragukan oleh Komisi I DPRD setempat.
Sekretaris Komisi I DPRD Sampang, Aulia Rahman menyampaikan, keraguan itu muncul setelah salah satu petugas kesehatan yang ditugaskan melakukan pendampingan haji pada klaster pelatihan petugas haji di Asrama haji Sukolilo Surabaya pertengahan Maret 2020 lalu. Seharusnya, kata Aulia, sapaan akrabnya, petugas haji ikut pelatihan dilakukan tes massal.
“Satu petugas kesehatan yang menjadi pendamping haji terkonfirmasi positif Corona. Memang Setelah saya konfirmasi ke pihak Kemenag Sampang, ada lima orang yang ikut pelatihan di asrama haji Sukolilo, dari Kemenag 2 orang dan Dinkes 3 orang. Dengan situasi ini saya sangat meragukan bahwa di Sampang zona hijau,” katanya, Senin, 13 April 2020.
Oleh karena itu, lanjut Aulia, untuk mengantusipasi dini dan menjadi kesiapsiagaan bersama, pihaknya meminta agar dilakukan tes massal. “Jika memang diperlukan, kita tes massal saja sebagai uoaya antisipasi dini,” ungkapnya.
Aulia semakin ragu ketika mendapat informasi adanya sejumlah bus pemudik yang berdatangan ke Sampang, yang ditengarai TKI ilegal dengan melewati rute pantura sebelum didirikan posko Covid-19 di pintu masuk.
“Saya mendapat informasi TKI yang masuk ke Sampang ini banyak sekali, apakah itu sudah terdeteksi atau tidak. Apalagi yang tercatat sebagai TKI ilegal susah dilakukan pemantauan,” ungkapnya dengan penuh ragu.
Dengan begitu, Aulia menyarankan, pendirian posko benar-benar didirikan di pintu masuk Kabupaten Sampang agar lebih maksimal dalam upaya pendeteksian dini terhadap para pemudik.
“Seperti posko penanganan Covid-19 yang terletak di jembatan timbang Kecamatan Jrengik, itu perlu secepatnya dipindah ke pintu masuk wilayah Kabupaten Sampang, yaitu dipindah ke Desa Panyepan, karena di sanalah pintu masuk wilayah Sampang,” tegasnya.
Saat dikonfirmasi, Kasi Pemberangkatan Haji dan Umroh (PHU) Kemenag Sampang, Fathor Rahman membenarkan adanya salah satu petugas haji yang terkonfirmasi positif Corona. Namun pihaknya menyatakan, petugas haji tersebut merupakan unsur petugas medis.
“Kalau dua pegawai kami yang ikut klaster pelatihan petugas haji di Asrama haji Sukolilo Surabaya, semua hasil labnya negatif Corona. Dan alhamdulillah kondisi keduanya sehat semua. Pelatihan haji waktu itu sifanya integrasi yaitu dua petugas dari Kemenag dan dan tiga petugas Kesehatan dari Dinkes. Kebetulan yang terkonfirmasi Covid-19 merupakan petugas kesehatan yang berdomisili di Pamekasan,” jelas Fathor Rahman. (Muhlis/SOE/DIK)