SUMENEP, koranmadura.com – Kabupaten Sumenep merupakan salah satu “gudang” pesantren di Jawa Timur. Di daerah ini banyak sekali pondok pesantren. Jumlahnya mencapai ratusan.
Dalam situasi normal, tidak sedang ada pandemi seperti sekarang, pasca lebaran biasanya semua santri, khususnya di kabupaten paling timur Pulau Madura, sudah harus bersiap-siap kembali ke pondok. Baik yang ada di Sumenep atau di luar daerah.
Para santri mestinya sudah menyiapkan diri, baik mental maupun fisik, untuk kembali beraktivitas di lingkungan pondok pesantren menuntut ilmu, khususnya keagamaan, sebagai persiapan di masa depan.
Namun di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang, tampaknya “kaum sarungan” masih harus lebih lama berada di rumah berkumpul dengan keluarga masing-masing.
Bupati Sumenep, A. Busyro Karim menyebut di daerahnya ada sejumlah pesantren yang menunda waktu santri kembali ke pondok. Terutama pesantren yang memiliki banyak santri.
Beberapa pesantren yang disebut Bupati menunda waktu kembali santri ke pondok di antaranya ialah Annuqayah di Kecamatan Guluk-Guluk, dan Al-Amien di Prenduan.
“Annuqayah diundur. Al-Amien juga diundur. Beberapa pondok pesantren telah koordinasi dengan kami. Artinya pondok pesantren yang besar-besar diundur (waktu kembali santri ke pondok). Entah kalau pesantren yang hanya memiliki lima santri,” ujarnya.
Dalam situasi seperti sekarang, Bupati mengajak semua elemen masyarakat, khususnya di Sumenep, untuk bersama-sama mencegah penyebaran Covid-19 agar tidak semakin meluas.
Dia juga meminta kepada masyarakat supaya tidak menganggap enteng pandemi Covid-19. “Karena di Sumenep Covid-19 ini bukan sekadar berita, tapi realita,” ujarnya.
Per hari Rabu, 27 Mei 2020, jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 bertambah empat dari sebelumnya tujuh orang. Sehingga sejauh ini sudah ada 11 orang di Sumenep dinyatakan positif. Dua di antaranya telah sembuh.
Dari empat kasus tambahan itu, dua pasien, nomor 8 dan 9, tertular dari pasien nomor 6, yakni warga Kecamatan Kota yang tertular di tempat kerjanya di salah satu perbankan di Surabaya.
Kemudian satu kasus tambahan, yakni pasien nomor 10, asal Kecamatan Talango terpapar di Jakarta. Sedangkan pasien nomor 11 disebut terpapar dari salah seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) asal Kecamatan Kota yang telah meninggal beberapa waktu lalu. (FATHOL ALIF/SOE/VEM)