PAMEKASAN, koranmadura.com – Penerapan pembelajaran dalam jaringan atau daring di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, tidak hanya berlaku untuk wilayah tertentu, tetapi menyeluruh hingga pelosok desa.
Namun penerapan pembelajaran daring ini menuai banyak kendala, selain fasilitas pendidikan yang sebagian tidak dimiliki lembaga dan siswa, sistem online ini juga harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Kendala lainnya, tidak semua lembaga pendidikan dan anak didik menggunakan internet, utamanya di pelosok desa.
Untuk itu, Kepala Disdik Pamekasan, Achmad Zaini meminta guru dan pengawas mengevaluasi pembalajaran daring. Hasil evaluasi tersebut akan dipelajari di lingkungan dinas untuk menentukan langkah-langkah strategis pendidikan di Pamekasan.
“Pendidikan di Pamekasan harus berjalan apa pun itu kendalanya, kami akan segera evaluasi dan mencari solusi untuk pendidikan Pamekasan ke depan,” kata Achmad Zaini, Selasa, 6 Mei 2020.
Menurut Achmad Zaini, pembelajaran bukan hanya transfer ilmu sebagaimana sistem pembelajaran daring yang diterapkan di tengah pandemi Covid-19. Dalam pendidikan juga ada dialektika dengan melakukan transfer knowladge dan kepribadian, sehingga dibutuhkan tatap muka untuk merealisasikan hal itu.
“Untuk transfer knowladge dan membentuk kepribadian memang dibutuhkan tatap muka, tapi kondisinya saat tidak memungkinkan,” terangnya. (RIDWAN/SOE/VEM)