SUMENEP, koranmadura.com – Pemerintah menginstruksikan sekolah mulai dari tingkatan pendidikan usia dini (PAUD) hingga perguruan tinggi menerapkan sistem belajar dari rumah selama masa pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19). Namun, tidak semua sekolah bisa menerapkan dengan baik, utamanya sekolah yang berada di pelosok desa
Para guru memiliki tugas untuk memacu agar kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berjalan, salah satunya dengan membentuk zona belajar. Seperti yang diterapkan oleh Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) Al-Atrawiyah, Desa Rombiya Timur, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep. Sebab, tidak bisa mengandalkan teknologi sebagai panduan belajar mengingat minimnya sarana teknologi di pedesaan.
Penerapan sistem zona belajar mulai diberlakukan sejak sekolah diliburkan, pada pertengahan Maret 2020. Hingga saat ini terus berjalan meski bertepatan pada bulan Ramadan.
“Kebijakan ini kami lakukan agar kegiatan belajar siswa tetap berjalan,” kata Isma’il, Kepala Sekolah SMPI Al-Atrawiyah, Sabtu, 9 Mei 2020.
Saat ini kata dia terdapat tujuh zona yang dibentuk pihak sekolah. Setiap zona belajar terdapat satu hingga dua guru pembina dengan jumlah siswa tidak lebih dari 7-9 siswa.
Saat kegiatan belajar berlangsung, semua siswa diwajibkan untuk menjaga jarak (physical distancing) dan juga memakai masker. Sebelum kegiatan belajar dilaksanakan, semua siswa diwajibkan untuk mencuci tangan. “Teman-teman siswa tidak melawan corona tapi tangkal,” jelasnya.
Pertemuan tatap muka dengan guru itu lanjut Isma’il, dilakukan selama 3-5 hari setiap minggu atau disesuaikan dengan jadwal yang telah ditentukan.
“Setiap pertemuan sekitar 30-45 menit siswa diberi materi pelajaran. Siswa juga mengikuti kegiatan belajar dari rumah masing-masing menggunakan alat telekomunikasi,” ungkapnya.
Selama ini kata Isma’il, sangat antusias mengikuti kegiatan belajar, baik melalui program zona belajar maupun melalui media daring.
“Siswa terus belajar di tengah pandemi covid 19, mereka sangat semangat dan antusias sekali belajar karena di samping bernilai ibadah juga merupakan kewajiban kader bangsa untuk meningkatkan kapasitas dirinya,” jelas Ismail. (JUNAIDI/SOE/VEM)