SAMPANG, koranmadura.com – Paparan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) diduga mulai merangsek ke lingkungan pendidikan. Dugaan itu, mulai ramai dibicarakan setelah satu dari belasan pegawai di lingkungan pendidikan yang mengikuti pelantikan sebagai tenaga pengawas dan kepala sekolah tingkat SMA/sederajat se-Jawa Timur di Surabaya beberapa waktu lalu dikabarkan reaktif rapid test.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim di Kabupaten Sampang, Assyari saat dikonfirmasi mengenai kabar itu menegaskan, tidak ada klaster baru untuk kegiatan pelantikan tenaga pengawas dan kepala sekolah se-Jawa Timur yang digelar saat penerapan PSBB di Surabaya beberapa waktu lalu.
Namun demikian, kabarnya ada satu peserta reaktif saat dites cepat. Bahkan pihaknya menyatakan, satu peserta tersebut merupakan satu-satunya peserta se-Jawa Timur yang hasil rapidnya reaktif saat diperintahkan untuk melakukan raid test.
“Tapi itu sudah menjalani isolasi mandiri selama 20 hari setelah rapid mandiri di Pamekasan. Dan rentan waktu itu sudah melewati batas 14 hari masa inkubasi. Jadi tidak kaitannya dengan pelantikan. Dan kebetulan sekarang kan masih berlaku bekerja dari rumah,” katanya, Kamis, 18 Juni 2020.
Menurutnya, ada sebanyak 12 orang yang mengikuti pelantikan di Surabaya beberapa waktu lalu, yaitu tenaga Pengawas sebanyak tiga orang dan kepala sekolah sembilan orang.
Selain itu, pihaknya menyatakakan, dugaan adanya klaster baru pelantikan bermula adanya peserta asal Mojokerto yang meninggal dunia secara tiba-tiba. Namun ketika ditindaklanjuti oleh gugus tugas Provinsi dengan uji swab, penyebab kematian bukan karena Covid-19 melainkan penyakit bawaannya karena hasil swabnya dinyatakan negatif.
“Nah untuk peserta yang dari Sampang, saat diperintahkan rapid, semuanya non reaktif kala itu, cuma hanya ada satu yang reaktif, dan itupun sudah menjalani isolasi mandiri selama kurang lebih 20 hari. Dan ketika bertemu beberapa waktu lalu, ya jawabannya sehat karena tidak ada keluhan. Dan sejauh ini, belum ada informasi lebih jauh atau tembusan dari gugus tugas kabupaten kepada kami,” katanya.
Terpisah, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang, Agus Mulyadi menyatakan, masih akan mengecek adanya informasi yang sudah beredar. Sebab sejauh ini, pihaknya hanya mengantongi satu nama tenaga pengawas yang diduga reaktif saat rapid test.
“Makanya kami cek dulu, apakah tenaga pengawas atau kepala sekolah. Karena sampai sekarang, kami masih belum mendapat informasi jika itu kepala sekolah. Tapi data di kami hanya satu tenaga pengawas yang diketahui reaktif. Dan asal tahu, data identitas yang ada di kami itu tidak berbunyi kepala sekolah melainkan pekerjaan seperti guru saja. makanya kami cek dulu,” katanya.
Namun begitu, Agus, sapaan akrab Agus Mulyadi menegaskan, rapid test tersebut diharapkan untuk tidak dihindari, sebab rapid test hanya untuk screening awal bukan memastikan apakah Covid-19 atau tidak.
“Rapid test ini kan hanya sekedar mendeteksi virus, makanya kami rekomendasikan bagi yang reaktif saat rapid test agar isolasi mandiri selama 14 hari serta tetap menjaga kesehatan. Kalau misal ada keluhan sesak dan sebagainya, nanti bisa dirapid test ulang setelah lima hari berikutnya untuk memastikan apakah tetap reaktif atau tidak, jika tetap reaktif maka nanti akan dilakukan swab,” jelasnya. (MUHLIS/ROS/VEM)