SUMENEP, koranmadura.com – Dinas Perhubungan (Dishub) Sumenep, Madura, Jawa Timur, belum bisa memastikan penyebab ambruknya proyek tambat labuh di Pulau Giliyang, Kecamatan Dungkek, beberapa waktu lalu.
Kepala Dishub Sumenep, Agustiono Sulasno, menyampaikan pekerjaan tambat labuh yang belum selesai seratus persen dan sudah putus kontrak dengan pihak ketiga yang melaksanakan proyek tersebut sekarang masih dalam audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
“Pekerjaan ini masih proses audit oleh BPK. Sehingga kami belum memastikan, apakah itu kesalahan konstruksi atau memang faktor alam,” ungkapnya, Jumat, 12 Juni 2020.
Dishub sendiri, sambunya, melalui konsultan dan pengawas proyek tersebut, akan melakukan investigasi untuk mengetahui, apakah ada unsur kelalaian sehingga menyebabkan tambat labuh itu ambruk.
Lalu, kapan proyek tersebut akan dilanjutkan? “Kami masih menunggu hasil audit BPK. Nanti kalau kami sudah tahu, baru kami akan melaksanakan kelanjutannya,” tambah dia.
Baca: Tambat Labu di Giliyang Ambruk Sebelum Selesai, Dishub Sumenep: Kami akan Investigasi
Sekadar diketahui, proyek tersebut merupakan bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur tahun anggaran 2019. Pelaksanaannya mulai digarap di periode September tahun lalu.
Sesuai kontrak, awalnya proyek itu ditarget selesai dalam 90 hari kerja. Namun tak selesai. Akhirnya dilakukan perpanjangan kontrak sekitar 50 hari. Hanya saja, lagi-lagi pihak ketiga tak mampu menyelesaikannya.
Karena tak kunjung selesai, akhirnya Pemkab Sumenep mengambil keputusan memutus kontrak. Pekerjaan yang diselesaikan oleh pihak ketiga, sebelum diputus kontrak, belum mencapai seratus persen. Melainkan sekitar 75 persen.
Pagu anggaran untuk pelaksanaan pembangunan tambat labuh itu Rp 17 miliar. Nilai kontraknya Rp 15 miliar lebih. Dari nilai kontrak itu, anggaran yang telah dicairkan kepada pihak ketiga baru untuk termin pertama atau sekitar 45 persen.
“Pekerjaan pembangunan tambat labuh di Giliyang itu merupakan bantuan keuangan dari Provinsi Jawa Timur. Totalnya Rp 60 miliar untuk dua lokasi. Yaitu untuk pelabuhan di Dungkek dan tambat labuh di Giliyang,” paparnya. FATHOL ALIF/ROS/VEM