Oleh: Miqdad Husein (*)
New normal secara bertahap mulai dilaksanakan. Syaratnya jelas: kedisplinan. Lalu apa bisa masyarakat negeri ini disiplin. Sebuah pertanyaan bernada pesimis namun masuk akal mencermati rekam jejak perilaku masyarakat negeri ini.
Tak ada yang memungkiri ketika pandemi Covid-19 dengan berbagai pembatasan ketat saja, masih sering dilanggar. Apalagi ketika memasuki kehidupan baru, relatif lebih bebas.
Namun kehidupan normal baru mau tak mau harus dihadapi dan dilaksanakan seluruh masyarakat sesuai protokol penanganan Covid. Ini jika pandemi Covid-19 gelombang kedua yang sudah pasti jauh lebih dasyat tak ingin terjadi.
Masalahnya bisakah? Dengan mencermati budaya masyarakat negeri ini bisa dipahami jika merebak pesimisme. Sudah menjadi rahasia umum tingkat disiplin masyarakat sangat parah. Soal disiplin waktu misalnya, sampai ada candaan menyakitkan. “Selama Indonesia masih mengekspor karet, jam karet akan senantiasa tetap ada.” Wow.
Seorang penyelenggara event bimbingan teknis menceritakan tentang perilaku para peserta. Mereka jika dijadwal mulai jam 09.00 hampir dipastikan paling cepat peserta berkumpul lebih 30 menit dari waktu yang ditentukan. Menunggu ini, itu, acara akhirnya baru dimulai sekitar jam 10.00.
Menurut pengakuannya, sepanjang menjadi penyelenggara event, selama bertahun-tahun belum pernah acara berlangsung tepat waktu. Selalu mundur sehingga menggangu seluruh jadwal yang dipersiapkan.
Itu mungkin contoh tentang parahnya kedisiplinan. Contoh lain soal antri dan tertib berlalu lintas. Antri dalam berbagai aktivitas masih merupakan barang mahal di negeri ini. Sikap saling serobot mudah sekali ditemui dalam berbagai kesempatan.
Bagaimana berlalu lintas? Sekalipun tak bisa dianggap mewakili perilaku seluruh masyarakat negeri ini, dalam persoalan berlalu lintas, pada sebagian masyarakat negeri tergolong sangat parah. Jangan bicara tertib memiliki SIM serta kelengkapan surat-surat serta ketaatan pajak, yang tak akan terlihat kalau tak diperiksa. Dalam keseharian saja, pelanggaran lalu lintas bukan hanya terhadap rambu-rambu. Pada tingkat sangat serius serta bahaya sangat mudah ditemukan perilaku melawan arah. Sebuah gambaran ekstrem tentang betapa parah kedisiplinan masyarakat negeri ini.
Gambaran selintas seperti itulah kehidupan masyarakat keseharian hingga menjadi kerisauan siapapun ketika akan diberlakukan new normal. Sebuah perilaku kehidupan keseharian yang mengharuskan mematuhi protokol pandemi Covid-19, yang jika dilanggar resikonya sangat berbahaya; menyangkut nyawa manusia.
Semuanya mau tak mau harus dihadapi. Pesimisme jika mencermati kedisiplinan perilaku masyarakat memang memiliki dasar rasional. Namun harapan tetap harus ada. Keyakinan disertai upaya kerja keras harus dilakukan. Apa bisa?Harus diupayakan jika korban terinfeksi Covid-19 tidak ingin terus berjatuhan.
Belajar dari berbagai ikhtiar ternyata kedisiplinan walau banyak dipengaruhi budaya dapat diwujudkan dari pembenahan sistem. Masyarakat ‘dipaksa’ mentaati sistem sehingga perlahan membentuk budaya tertib.
Contoh menarik keberhasilan sistem mampu mewujudkan tertib perilaku masyarakat dapat dilihat pada pembenahan transportasi kereta. Para pengguna kereta commuter line –sebelumnya KRL- pasti memiliki kenangan buram tentang ketakdisplinan. Dari A sampai Z, pengelolaan kereta jarak dekat itu amburadul. Penumpang, pengelola, masinis, kondektur, polisi kereta, para pedagang, calo, pengemis, pencari sumbangan semua yang berhubungan dengan kereta itu tergambar mengerikan. Termasuk ketakamanan karena copet dan jambret selalu mengintai. Sekalipun tidak semua dari mereka melanggar prosedur tertib berkereta namun praktek kengawuran mudah ditemukan dalam keseharian. Jangan lupa, kesemrawutan juga terjadi pada perjalanan kereta jarak jauh. Barangkali hanya kereta eksekutif yang relatif disiplin.
Ketakdisiplinan yang mengarah pada ‘kebrutalan’ itu ternyata terbukti dapat ditertibkan. Dan kereta api saat ini baik jarak jauh maupun dekat merupakan sektor paling disiplin melebihi transportasi pesawat udara. Tidak bisa misalnya, seseorang masuk ke stasiun tanpa mematuhi aturan. Untuk jarak dekat harus tertib, antri. Untuk jarak jauh, tiket mutlak harus sesuai nama tertera di identitas resmi. Calopun habis dan yang menarik para pengguna kereta jauh lebih dipermudah dan nyaman memanfaatkan kecanggihan teknologi digital.
Cobalah sekali-kali mengunjungi stasiun kereta commuter line. Lihat para penumpang yang masuk menempelkan tiket di pintu masuk. Juga, lihat ketika ke luar di stasiun tujuan. Semua berjalan tertib, rapi, antri, praktis tidak ada yang saling mendahului. Di dalam kereta juga tertib, tak ada lagi pedagang, pengemis, pencari sumbangan, apalagi copet dan jambret. Benar-benar disiplin. Tak terbayangkan suasana yang sebelumnya begitu ‘liar’ bisa menjadi berubah total sangat tertib.
Secara obyektif kedisplinan transportasi kereta melampaui pesawat terbang. Ketika kereta sudah begitu disiplin, di bandara masih sempat ditemui praktek-praktek nakal. Namun, baik transportasi pesawat dan terutama kereta api kini dapat menjadi referensi bahwa kedisplinan dapat diwujudkan dengan penerapan sistem yang tepat.
New normal, yang jika dilabrak beresiko tinggi, kematian, dapat belajar dari penerapan kedisplinan kereta melalui penerapan sistem ketat. Jika kesemrawutan kereta yang relatif sedikit berbahaya dapat diterapkan disiplin tinggi, tentu new normal, yang high risk, dapat lebih mudah.
Budaya memang tak bisa diarahkan dan dikendalikan. Tak ada kekuatan di dunia ini yang mampu mengendalikan dan mengarahkan budaya. Namun, penerapan sistem dapat menjadi embrio pembelajaran pilihan-pilihan budaya masyarakat secara terarah. Semangat dan pemikiran inilah yang perlu secara serius diterapkan jika new normal ingin dapat berjalan baik. (*)
*Kolumnis, tinggal di Jakarta.